Kamis, 5 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Profesor Matematika Ceko Kejar Gerhana ke-19 untuk Menyelesaikan Misteri Panas Korona Matahari

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: IEEE Spectrum Robotics & AI
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Profesor Matematika Ceko Kejar Gerhana ke-19 untuk Menyelesaikan Misteri Panas Korona Matahari
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ekspedisi ini bukan sekadar hobi, melainkan upaya ilmiah serius untuk menyelesaikan masalah lama: mengapa korona matahari jauh lebih panas daripada permukaan matahari itu sendiri.
  • Meskipun permukaan matahari bersuhu sekitar 5.500 derajat Celsius, korona mencapai suhu ekstrem sekitar satu juta derajat Celsius.
  • Druckmüller dan timnya menggunakan sistem teleskop kustom yang dilengkapi delapan astrokamera, masing-masing dipasangi filter spektral untuk mendeteksi emisi spesifik dari ion besi.

Miloslav Druckmüller, profesor matematika dan pemrosesan citra dari Brno University of Technology, kembali membuktikan dedikasinya dalam astronomi dengan memimpin ekspedisi ke-19-nya untuk mengamati gerhana matahari total. Di lereng Gunung Pico Trigaza, Spanyol, tim Druckmüller yang terdiri dari kandidat doktor bersiap menghadapi tantangan cuaca dengan peralatan optik kustom yang dirancang khusus untuk mengungkap detail halus pada korona matahari, wilayah atmosfer luar yang masih menjadi misteri bagi para fisikawan selama berabad-abad.

Ekspedisi ini bukan sekadar hobi, melainkan upaya ilmiah serius untuk menyelesaikan masalah lama: mengapa korona matahari jauh lebih panas daripada permukaan matahari itu sendiri. Meskipun permukaan matahari bersuhu sekitar 5.500 derajat Celsius, korona mencapai suhu ekstrem sekitar satu juta derajat Celsius. Druckmüller dan timnya menggunakan sistem teleskop kustom yang dilengkapi delapan astrokamera, masing-masing dipasangi filter spektral untuk mendeteksi emisi spesifik dari ion besi. Dengan menganalisis distribusi ion besi ini, mereka berharap dapat memetakan distribusi panas di korona, sebuah data yang sangat berharga untuk memahami dinamika plasma matahari.

Teknologi Kustom dan Tantangan Observasi

Dalam kondisi gerhana total yang hanya berlangsung 107 detik, tim ini bekerja dengan presisi tinggi. Druckmüller, yang memulai perjalanan obsesinya pada 1999 di Hungaria dengan lensa Soviet berusia 30 tahun, kini mengandalkan perangkat lunak pemrosesan citra canggih yang menggabungkan puluhan gambar individual. Teknologi ini memungkinkan visualisasi struktur korona yang biasanya terhalang oleh silau matahari. Berbeda dengan coronagraph yang menggunakan piringan tak tembus cahaya (occulter) dan sering terganggu efek difraksi yang menghalangi bagian dalam korona, gerhana total memberikan pandangan yang lebih jernih hingga mendekati permukaan matahari karena ukuran dan jarak bulan yang pas menutupi matahari secara sempurna.

Shadia Habbal, fisikawan matahari dari University of Hawaii dan pemimpin proyek Solar Wind Sherpas, menegaskan keunggulan observasi gerhana. "Tetapi itu terpotong sangat cepat, sehingga Anda tidak melihat perpanjangan ke ruang antarplanet sebaik yang bisa kita lihat dalam emisi cahaya tampak selama gerhana," jelas Habbal. Ia menambahkan bahwa ini adalah keuntungan terbesar fotografi gerhana dibandingkan dengan observasi satelit seperti NASA Solar Dynamics Observatory yang beroperasi dalam cahaya ultraviolet ekstrem. Data yang dikumpulkan Druckmüller, termasuk jejak dispersi ion besi super panas ke ruang antarplanet, diharapkan memberikan wawasan langka tentang pola panas yang memancar dari korona.

Dampak Ilmiah dan Dedikasi Tanpa Henti

Di balik ketenangan Druckmüller, tensi di lapangan sangat tinggi, terutama setelah rekan-rekan mereka di Islandia gagal mengamati gerhana akibat sistem tekanan rendah yang menutupi langit. Bagi Druckmüller, setiap detik observasi adalah peluang yang tidak bisa diulang. "Faktanya, saya tidak pernah benar-benar melihat gerhana mana pun. Anda hanya menonton layar, memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ada begitu banyak hal yang bisa salah dan Anda tidak bisa mengulangnya," ungkapnya. Ekspedisi ini menegaskan peran krusial observasi langsung dari Bumi dalam melengkapi data satelit, membuka jalan baru untuk memahami fenomena fisika matahari yang paling membingungkan: bagaimana lapisan terluar bintang kita justru menjadi yang terpanas.

Meow! Tanya Nesi!
😸