TP Posyandu Pusat dan TP PKK Dorong Transformasi Layanan SPM di Manggarai NTT

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

TP Posyandu Pusat dan TP PKK Dorong Transformasi Layanan SPM di Manggarai NTT
BAGIKAN:

Tim Pembina Pos Pelayanan Terpadu (TP Posyandu) Pusat bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) secara resmi memperkuat peran Posyandu dalam mendukung pemenuhan enam bidang Standar Pelayanan Minimal. Langkah strategis ini ditandai dengan kunjungan langsung ke Posyandu Beawaek, Desa Compang Cibal, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu (7/10).

Mewakili Ketua Umum TP Posyandu dan TP PKK Tri Tito Karnavian, Pelaksana Tugas Sekretaris Umum TP Posyandu Pusat sekaligus Ketua Bidang Kesehatan Keluarga dan Lingkungan TP PKK Pusat Safriati Safrizal menegaskan bahwa Posyandu kini mengalami transformasi signifikan. Lembaga ini tidak lagi sekadar berfokus pada pelayanan kesehatan semata, melainkan berevolusi menjadi wadah partisipasi masyarakat untuk mengakses layanan dasar yang lebih luas.

Cakupan fungsi baru tersebut merujuk pada enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM): pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat (Trantibumlinmas), serta sosial. Safriati menjelaskan bahwa perluasan mandat ini diatur dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pos Pelayanan Terpadu, yang menempatkan Posyandu sebagai garda depan pembangunan manusia di tingkat desa dan kelurahan.

Bidang Trantibumlinmas mendapat sorotan khusus dalam kunjungan kali ini. Implementasinya mencakup penyuluhan dan rehabilitasi trauma pascabencana, komunikasi informasi dan edukasi mengenai kesiapsiagaan bencana, hingga pencegahan gangguan ketertiban melalui deteksi dini. Selain itu, kegiatan juga meliputi pembinaan patroli pengamanan dan pemberdayaan pelindungan masyarakat guna menciptakan lingkungan yang aman dan tangguh terhadap potensi bencana.

Dalam kesempatan tersebut, bantuan logistik diserahkan kepada Posyandu Beawaek untuk mendukung operasional harian. Bantuan meliputi satu antropometri kit berisi timbangan bayi, stadiometer, length board, dan alat ukur tinggi badan; satu BMHT kit berisi kasa steril, plester, povidone iodine 10 persen, dan pouch P3K; serta enam alat pengukur tekanan darah dan 30 kursi pelayanan. Ditambahkan pula 50 paket makanan ringan anak, 50 paket sembako, lima dus air mineral, dan berbagai produk susu seperti Promina Snack Rice Strawberry, Indomilk Cokelat, Ultramilk Tango, serta UHT Cokelat.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua TP Posyandu Provinsi NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, Ketua TP PKK Kabupaten Manggarai Meldyanti Hagur Marcelina, Kepala Desa Compang Cibal beserta jajaran, serta perwakilan kader dari tiga Posyandu di wilayah tersebut. Safriati menekankan pentingnya kehadiran kader sebagai sumber dukungan psikososial bagi keluarga terdampak bencana, seraya mengajak seluruh pihak membangun kembali kehidupan dengan semangat gotong royong agar daerah terdampak dapat pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat.

Analisis Redaksi

Transformasi Posyandu dari sekadar pos kesehatan ibu dan anak menjadi simpul layanan enam bidang SPM merupakan respons logis terhadap kompleksitas masalah sosial di pedesaan. Dengan memasukkan unsur Trantibumlinmas, negara mengakui bahwa ketahanan pangan dan kesehatan tidak bisa dipisahkan dari stabilitas keamanan dan kesiapsiagaan bencana. Ini adalah pergeseran paradigma dari pendekatan sektoral menuju pendekatan holistik berbasis komunitas.

Namun, tantangan terbesar terletak pada kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa. Kader Posyandu yang selama ini dilatih untuk menangani balita dan lansia kini dibebani tugas tambahan terkait mitigasi bencana dan administrasi sosial. Tanpa pelatihan lanjutan yang memadai dan insentif yang layak, risiko kegagalan implementasi atau beban kerja berlebih bagi kader sangat nyata. Keberhasilan kebijakan ini akan bergantung pada seberapa efektif transfer pengetahuan terjadi di lapangan, bukan hanya pada distribusi barang bantuan.

Meow! Tanya Nesi!
😸