Reaksi penonton dan kritikus terbelah secara tajam. Di platform Rotten Tomatoes, Digger meraih nilai 51 persen dari kritikus, namun skor dari penonton non-kritikus justru lebih baik, yakni 71 persen positif. Tren serupa terlihat di Metacritic, di mana skor kritikus berada di angka 46/100, sedangkan skor pengguna mencapai 66/100. Data ini mengindikasikan adanya jarak persepsi antara pengamat industri dan audiens akar rumput terhadap visi seni sang sutradara.
Kegagalan komersial ini mencolok mengingat film tersebut tayang perdana pada 1 Oktober 2026. Dengan bujet jumbo mencapai US$160-180 juta atau setara dengan Rp2,8-3,2 triliun, Digger hanya mampu mengumpulkan US$8 juta atau Rp143 miliar di pekan pembukaannya di Amerika Utara. Di pasar internasional, data Box Office Mojo mencatat perolehan tambahan US$12 juta sehingga total globalnya baru menyentuh US$20 juta, atau sekitar 12 persen dari total biaya produksi.
Kondisi ini memastikan Digger akan merugi setidaknya US$150-200 juta atau Rp2,6-3,5 triliun dari penayangan di bioskop. Nama besar Tom Cruise dan reputasi Iñárritu, yang biasanya mampu mendorong pendapatan awal ke kisaran US$18-20 juta, tidak cukup untuk menyelamatkan film dari kerugian triliunan rupiah. Kegagalan ini menandai titik balik berat bagi proyek sinematik ambisius yang dianggap sebagai pertaruhan paling besar dalam karier keduanya.
Analisis Redaksi
Pernyataan Iñárritu bahwa "bencananya adalah kita sendiri" mengindikasikan bahwa Digger dirancang sebagai karya filosofis yang mengkritisi kondisi manusia dan ekosistem, bukan sekadar film hiburan massal. Ketika seorang sutradara dengan rekam jejak seperti Iñárritu memilih jalur estetika yang menolak kenyamanan penonton, konsekuensi komersialnya sudah terbayang sejak awal. Data box office membuktikan bahwa sebagian besar penonton Hollywood kini menuntut kepastian naratif yang lebih ringan, sehingga film yang "memancing pemikiran" justru menjadi hambatan bagi daya tarik tiket.
Gap antara skor kritikus yang rendah dan penilaian penonton yang moderat menunjukkan bahwa audiens kemungkinan besar terbagi antara yang menghargai kedalaman makna dan yang merasa terjebak dalam kompleksitas penyajian. Dengan kerugian yang diproyeksikan hingga Rp3,5 triliun, studio dan investor harus mengevaluasi apakah strategi pemasaran "arte house" yang diklaim Iñárritu benar-benar sesuai dengan distribusi global saat ini. Langkah selanjutnya kemungkinan besar akan melihat perpindahan fokus dari profitabilitas box office ke legitimasi pengakuan di acara penghargaan, di mana risiko artistik sering kali dihargai lebih tinggi daripada angka kotor di layar besar.