Chery Jelaskan Insiden As Roda Copot Omoda 5 di Malaysia, Imbau Perawatan Rutin di Indonesia
Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Chery Sales Indonesia merespons insiden copotnya komponen as roda pada SUV Chery Omoda 5 di Malaysia yang sempat viral di media sosial. Kasus tersebut menjadi sorotan publik, yang salah satunya mempertanyakan kualitas mobil merek China. Menanggapi hal itu, pihak Chery Sales Indonesia menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi secara seksama. Saat ini, perwakilan di Malaysia disebut tengah fokus melakukan investigasi untuk mengusut tuntas penyebab insiden tersebut.
"Menanggapi perhatian publik terkait insiden pada OMODA 5 di Malaysia, Chery Indonesia terus memantau perkembangan situasi," kata perusahaan dalam pernyataan resminya, Rabu (7/10). "Saat ini, Chery Malaysia tengah melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui kronologi dan penyebab kejadian, sementara Chery Indonesia terus berkoordinasi untuk memastikan langkah antisipasi yang diperlukan di Indonesia," tulis perusahaan lagi.
Sebagai langkah preventif bagi para pemilik kendaraan di Tanah Air, pihak Chery juga mengimbau konsumen senantiasa merawat kendaraan secara berkala. "Kami mengimbau konsumen untuk tetap melakukan pemeriksaan kendaraan secara rutin di bengkel resmi Chery guna memastikan kendaraan selalu berada dalam kondisi optimal," lanjut pernyataan tersebut. Instruksi ini menjadi pesan krusial di tengah kekhawatiran publik yang meluas.
Insiden ini viral bermula dari video di media sosial yang memperlihatkan as roda belakang Omoda 5 terlepas. Dalam rekaman mobil tampak melintang di tengah jalan dengan posisi menyerong, sementara bagian as roda belakang beserta kedua bannya sudah terlepas sepenuhnya dari badan kendaraan. Visualisasi kerusakan ini tentu saja mengguncang kepercayaan awal masyarakat terhadap ketahanan struktur SUV tersebut.
Akun pengunggah video ini menyebut insiden terjadi pada 6 Oktober 2026. Sejauh ini belum ada penjelasan resmi dari Chery terkait pemicu utama lepasnya komponen tersebut. Kekosongan informasi teknis saat ini menjadi ruang hampa yang diisi oleh spekulasi liar, di mana setiap pihak menunggu hasil forensik otomotif yang bakal menentukan nasib reputasi brand ini di pasar domestik.
Analisis Redaksi
Respons awal Chery yang menekankan investigasi menyeluruh di Malaysia sebelum mengambil tindakan di Indonesia menunjukkan pendekatan hati-hati namun berisiko lambat. Bagi pembaca, ini bukan sekadar soal satu unit mobil, melainkan sinyal bahwa protokol keselamatan pascaproduksi sedang diuji. Jika akar masalahnya ternyata pada desain awal, dampaknya bakal menjalar ke seluruh unit yang beredar di pasar regional, termasuk Indonesia.
Perlu diwaspadai adalah potensi erosi kepercayaan publik yang bisa terjadi jika penjelasan teknis tak segera dirilis. Kehadiran instruksi perawatan rutin di bengkel resmi bisa jadi jebakan psikologis, menyiratkan bahwa insiden tersebut adalah salah pengguna. Jika Chery ingin mempertahankan posisi di segmen premium, transparansi penuh mengenai hasil investigasi teknis jauh lebih diperlukan daripada sekadar imbauan servis berkala. Langkah logis selanjutnya adalah publikasi data forensik kendaraan untuk membedakan antara kegagalan material dan kelalaian pengguna.


