Nunung Ungkap Turunnya Omzet Warung dan Temuan Tanah Kuburan di Area Parkir Solo
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Penyanyi Nunung mengaku mengalami penurunan omzet yang tajam hingga 2-3 bulan terakhir di bisnis kuliner miliknya yang berbasis di Solo, Jawa Tengah. Bukan sekadar isu sepi pengunjung biasa, ia mengklaim menemukan kejanggalan berupa tanah mencurigakan yang diduga berasal dari kuburan di halaman parkiran dan area masuk joglo warungnya. Klaim kontroversial ini ia kemukakan langsung kepada media pada Selasa (6/10), memicu pertanyaan publik soal kaitan antara praktik mistis tersebut dengan lesunya bisnis rumah makan khas Jawa itu.
Nunung menuturkan bahwa penemuan pertama kali dilaporkan oleh pegawainya lengkap dengan foto dokumenter. "Sebetulnya kalau aku pertama kali dikasih laporan, dikasih fotonya, buat aku sih percaya enggak percaya karena aku orangnya enggak percaya hal-hal kayak begitu," paparnya. Namun, ketika laporan berulang kali masuk dan dihubung-hubungkan dengan tren sepi pengunjung, pola pikirnya mulai bergeser meskipun ia mencoba tetap berpikir positif dengan memperbaiki hal-hal dari dalam organisasi. "Cuma kalau dikait-kaitkan dengan sepinya warung, mulailah kita berpikir ke sana, tapi aku tetap positif terus, dan selalu bilang benahi ke dalam," imbuhnya.
DetikHot mengonfirmasi temuan fisik yang dimaksud, di mana Nunung menunjukkan gambar sebuah bungkusan putih kumal berisi substansi cokelat tua menyerupai tanah. "Tanah kuburan. Itu berkali-kali seperti ini. Nah, nih. Ya sembarang saja, pokoknya enggak tahu dilempar atau apa, aku enggak mengerti. Pokoknya di halaman parkiran sama mau masuk halaman joglo warung," kata Nunung. Ia menambahkan, mencari barang buangan tersebut ternyata tidak mudah, bahkan kadang harus diupayakan oleh pegawai hingga ke sudut-sudut tersembunyi saat kondisi sedang sepi.
Kesimpulan menarik muncul dari pengamatan operasinya sehari-hari. "Lucunya itu kalau habis dibuang, warung ramai lagi, banyak orang makan lumayan. Kemarin sudah dibuang, bertahan seminggu, lalu ada kiriman lagi," ujarnya. Fenomena aneh lain juga teridentifikasi; tiga kendaraan pelanggan yang sudah diarahkan tukang parkir tiba-tiba putar balik tanpa masuk, sebuah insiden yang terjadi beberapa kali. Pelanggan pun mulai menanyakan alasan mengapa warung yang seharusnya beroperasi justru sering tampak tutup, padahal di belakang layar proses layanan tetap berjalan.
Kasus ini menambah catatan unik dalam perjalanan karier Nunung. Beberapa tahun terakhir, ia menggarap bisnis warung makan dari resep-resep lawas sebagai fokus utama, sebuah langkah yang diambil setelah ia sepenuhnya pulih dari penyakit kanker. Usaha yang berawal dari cabang di Solo ini kini telah berekspansi ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Jakarta yang dijalankan melalui kerja sama dengan Vicky Prasetyo. Di tengah ekspansi yang masif itulah, gangguan operasional tak terduga ini mulai mengganggu ritme bisnisnya yang sebelumnya dinilai sukses.
Analisis Redaksi
Secara jurnalistik, pernyataan Nunung mencampurkan dua diskursus yang jarang tercampur: manajemen operasional dan kepercayaan mistis. Dalam konteks bisnis kuliner yang kompetitif, klaim kaitan antara "tanah kuburan" dan jumlah pengunjung merupakan hipotesis yang sulit dibuktikan secara empiris oleh publik. Apa yang perlu diwaspadai oleh pembaca adalah potensi bias kognitif di mana pemilik usaha mencari penyebab eksternal ketika metrik penjualan tidak tercapai, sementara kemungkinan penyebab yang lebih prosaik, seperti perubahan selera pasar, kualitas layanan, atau harga, justru sedang direfleksikan dengan kalimat "selalu bilang benahi ke dalam".
Meskipun begitu, pola anomali operasional yang disebutkan, seperti kendaraan pelanggan yang putar balik mendadak, menunjukkan adanya gangguan nyata dalam experience pengguna, entah karena faktor teknis, psikologis, maupun eksternal. Kemungkinan langkah selanjutnya secara logis harusnya bukan pada aspek supranatural, melainkan audit menyeluruh terhadap layanan, strategi pemasaran, dan kenyamanan pelanggan. Jika gangguan eksternal seperti lemparannya memang terjadi secara fisik, itu seharusnya diproses sebagai tindak kekerasan atau gangguan keamanan yang dilaporkan ke pihak berwenang, bukan sekadar dibuang ke halaman belakang sambil berharap pengunjung kembali.

