Six Flags Tutup Permanen Roller Coaster X2 usai Klaim Puluhan Cedera Otak Serius
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Taman hiburan Six Flags Magic Mountain di Valencia, California, mengunci pintu roller coaster X2 secara permanen, memayungi lebih dari 16 juta pengunjung yang sempat menikmati kecepatan 130 kilometer per jam itu sebelum insiden fatal menghantam reputasinya.
Keputusan penutupan ini bukan kebetulan, melainkan respons langsung terhadap daftar panjang keluhan kesehatan yang dilaporkan para penumpang. Dua kasus tragis menjadi pemicu utama di bulan Juli, di mana dua wanita harus menjalani operasi otak darurat setelah duduk di gerbong tersebut.
Pamela Guillen, 40 tahun, mengalami hematoma subdural parah dan kompresi otak setelah menaiki wahana ini pada 5 Juli. Kondisi kritisnya memaksa dokter mengangkat sebagian tengkoraknya untuk menyelamatkan nyawanya. Baru sepekan kemudian, Naomi Greer Wilkinson, 25, mengalami nasib serupa; ia kehilangan kesadaran dan terjebak dalam koma berminggu-minggu. Hingga kini, Wilkinson masih belum mampu berbicara maupun bernapas secara mandiri.
Wahana yang beroperasi sejak 2008 ini memang dirancang untuk sensasi ekstrem, dengan kursi yang bisa berputar 360 derajat di tengah tikungan tajam. Namun, desain tersebut justru menjadi objek sorotan tajam dari para pengacara. Christopher Bulone dari Dordick Law, yang mewakili keluarga Wilkinson, mengungkapkan telah menerima klaim cedera dari lebih dari 100 orang. "Desain wahana ini membuatnya secara inheren berbahaya, dan berbahaya dengan cara yang tidak akan pernah diduga oleh penumpang yang berakal sehat," tegas Bulone.
Ironinya, Presiden Six Flags Magic Mountain, Brian Oerding, menegaskan bahwa X2 secara konsisten lolos seluruh pengujian keselamatan standar. Meski demikian, tekanan publik dan legalitas membuat pengelola menutup wahana ini pada 28 September lalu. Oerding menyebut keselamatan sebagai landasan bisnis, dan ketika kepercayaan pengunjung terganggu, mereka menanggapinya dengan serius. Di sisi hukum, kasus masih panjang; Six Flags baru saja berdamai dengan keluarga Christopher Hawley (22) yang meninggal pada 2022, sementara gugatan Sheila Katerelos (56) atas cedera otak traumatis dari insiden 2020 dijadwalkan masuk persidangan tahun depan.
Analisis Redaksi
Langkah penutupan permanen ini lebih merupakan strategi mitigasi risiko hukum daripada sekadar keputusan teknis keamanan. Dengan lebih dari 100 klaim cedera dan beberapa kasus medis berat seperti kompresi otak dan koma, eksposur legal Six Flags menjadi tak terukur. Menutup wahana yang terbukti "lolos" uji teknis adalah cara untuk memotong rantai tanggung jawab baru, meski hal ini akan menimbulkan biaya operasional besar bagi taman hiburan tersebut.
Di balik angka statistik kecelakaan, ada masalah sistemik dalam industri wahana ekstrem: ketergantungan pada uji statis yang sering gagal menangkap trauma dinamis pada tubuh manusia saat putaran cepat dan g-force tinggi. Pernyataan pengacara tentang desain "inheren berbahaya" mengindikasikan bahwa celah regulasi keselamatan mungkin perlu ditinjau ulang secara nasional, bukan hanya di satu taman hiburan.
Ke depan, industri taman hiburan AS akan menghadapi dua pilihan sulit: menurunkan standar sensasi wahana secara drastis untuk meminimalisir cedera, atau menghadapi gelombang gugatan class-action yang bisa mengancam profitabilitas jangka panjang. Kasus Six Flags ini berpotensi menjadi preseden baru dalam hukum produk terkait wahananya yang memiliki kompleksitas mekanis tinggi.

