Houthi Diduga Pakai Rudal Modifikasi Iran Ancam Penerbangan Sipil di Yaman

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Houthi Diduga Pakai Rudal Modifikasi Iran Ancam Penerbangan Sipil di Yaman
BAGIKAN:

Kelompok Houthi di Yaman diduga mulai mengoperasikan rudal jelajah hasil modifikasi dari sistem pertahanan udara buatan Iran, sebuah pengembangan persenjataan yang mengancam keselamatan penerbangan sipil di atas Yaman dan Laut Merah. Senjata baru ini diklaim memiliki kemampuan unik untuk melacak sumber panas atau emisi elektrotermal, yang berarti ia dapat mengincar target tanpa membedakan antara aset militer dan sipil. Akurasi dalam identifikasi ancaman ini menjadi isu krusial mengingat jalur penerbangan komersial kini beroperasi di bawah bayang-bayang konflik yang kembali memanas.

Pemerintah Yaman dan Arab Saudi secara tegas menuding bahwa modifikasi senjata strategis ini dilakukan dengan bantuan langsung dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Brigadir Jenderal Majed al-Nazili, mengungkapkan detail teknis yang mengerikan: rudal tersebut mampu bertahan di udara hingga 25 menit. Dalam durasi itu, sistem penargetan berbasis panas memungkinkan rudal menjelajah secara luas. Al-Nazili menyatakan, "Ini merupakan ancaman langsung dan serius terhadap keselamatan penerbangan sipil dan nyawa penumpang," lapor Al Jazeera.

Tuduhan soal rudal jelajah "berkeliaran" ini muncul di tengah eskalasi pertempuran yang intens. Pada Kamis kemarin, Arab Saudi mengumumkan berhasil mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan menuju Taif dan kawasan pelabuhan Yanbu. Di sisi lain, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya menyerang target sensitif di Riyadh dan fasilitas milik Saudi Aramco di Yanbu. Saree menjelaskan bahwa serangan ganda itu menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone.

Latar belakang konflik ini berakar dari perebutan kekuasaan sejak 2014, yang sempat mereda berkat gencatan senjata PBB tahun 2022. Namun, stabilitas itu pecah dalam beberapa pekan terakhir ketika Houthi merebut wilayah pesisir strategis seperti Mocha dan Pulau Mayyun di Selat Bab al-Mandeb. Situasi diperparah dengan deklarasi blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah pada Juli. Langkah ini menambah tekanan logistik karena Laut Merah kini menjadi jalur ekspor alternatif penting setelah Selat Hormuz tertutup akibat perang. Arab Saudi baru saja memulihkan operasi Pipa Timur-Barut untuk mengirim minyak ke Yanbu, yang sebelumnya rusak oleh serangan drone.

Para analis memperdebatkan validitas klaim teknis ini. Eleonora Ardemagni, peneliti senior di Institut Studi Politik Internasional Italia, mencatat bahwa bukti konklusif mengenai modifikasi sistem pertahanan udara Iran masih belum ada. Namun, ia menegaskan kemungkinan tersebut sulit dikesampingkan karena rekam jejak Houthi dalam merakit senjata dari komponen asal Iran. Data Komando Pusat militer AS menunjukkan penyitaan 750 ton senjata, termasuk rudal jelajah, pada Juni 2025. Laporan juga menyebut adanya penerbangan Mahan Air ke Sanaa yang membawa komandan IRGC, meski ini belum terverifikasi independen.

Analisis Redaksi

Perkembangan kemampuan Houthi mengoperasikan rudal jelajah berbasis pelacak panas menandai pergeseran taktis yang signifikan. Jika valid, senjata ini mengubah dinamik pertahanan udara tradisional karena targetnya tidak lagi terbatas pada platform besar, melainkan mencakup emisi termal objek bergerak. Kemampuan bertahan 25 menit di udara memberikan waktu reaksi yang sangat terbatas bagi pertahanan sipil maupun militer. Hal ini berpotensi mengunci lautan dan udara sebagai zona terlarang, memaksa seluruh operator penerbangan untuk mengubah rute atau menangguhkan operasi.

Implikasi strategisnya bukan hanya pada front militer Yaman, tetapi juga pada keamanan pangan dan energi global. Dengan Laut Merah menjadi jalur kritis pengganti Selat Hormuz, ancaman terhadap penerbangan sipil dan pelayaran di Bab al-Mandeb akan memicu inflasi biaya logistik. Peringatan dini bagi publik adalah meningkatnya risiko geopolitik pada rute pasokan komoditas. Langkah selanjutnya yang logis adalah verifikasi independen atas teknologi tersebut dan penguatan diplomasi untuk mencegah eskalasi sepihak di jalur pelayaran internasional.

Meow! Tanya Nesi!
😸