XLSmart Ekspansi 5G ke 101 Kota Pakai Spektrum Baru 700 MHz dan 2,6 GHz
Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

XLSmart memperluas target layanan 5G dari 88 menjadi 101 kota hingga akhir 2026 dengan memanfaatkan tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Langkah ini langsung diambil setelah perusahaan memenangkan lelang frekuensi yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), menandai percepatan signifikan dalam strategi infrastruktur digital mereka.
Direktur dan Chief Technology Officer XLSmart, Shurish Subbramaniam, menegaskan komitmen perusahaan dalam percepatan ekspansi ini. "Rencana kita di awalnya 88 kota. Kita masih berkomitmen atas hal itu, dan barusan ini kita setuju untuk melakukan ekspansi di 101 kota," ujar Subbramaniam seperti dikutip dari detikcom pada Jumat (4/9). Perolehan spektrum ini bukanlah angka kecil; XLSmart mendapatkan blok 30 MHz pada pita 700 MHz dengan nilai Rp1,0602 triliun dan 50 MHz pada pita 2,6 GHz senilai Rp231,6 miliar. Dua pita ini memiliki fungsi komplementer: 700 MHz untuk menembus cakupan area luas, sementara 2,6 GHz meningkatkan kapasitas di titik padat.
Sampai semester I 2026, XLSmart telah mengoperasikan lebih dari 50 kota dengan sekitar 15 ribu BTS 5G, mencakup 23 persen populasi nasional. Penggunaan spektrum baru ini mulai aktif pada Agustus 2026, yang sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat jaringan 4G. Group Head Corporate Communications XLSmart, Reza Mirza, menjelaskan bahwa tambahan spektrum ini akan diperuntukkan untuk memperluas cakupan dan memperkuat kapasitas jaringan secara simultan, bukan sekadar menambah jumlah menara. "Tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung perluasan cakupan (coverage) dan juga memperkuat kapasitas jaringan (baik 4G & 5G)," kata Mirza.
Ekspansi ini bukan hanya soal konektivitas, melainkan fondasi untuk era komputasi awan dan kecerdasan artifisial. Bersama Tencent Cloud, XLSmart menyelesaikan migrasi cloud berskala besar dengan bantuan AI untuk mempercepat proses. Transformasi ini diikat dalam inisiatif Esta Ecosystem, yang mengintegrasikan konektivitas 5G dengan layanan cloud, keamanan siber, dan Industrial Internet of Things (IIoT). Direktur dan Chief Enterprise Business Officer, Andrijanto Muljono, menyatakan bahwa transformasi digital memerlukan fondasi konektivitas yang kuat dan kemampuan mengelola data secara efektif agar AI dan automasi menghasilkan dampak bisnis nyata.
Dari sisi regulasi, Komdigi menempatkan konektivitas sebagai prasyarat utama pengembangan ekosistem digital, termasuk dukungan untuk infrastruktur AI yang membutuhkan pusat data dan komputasi. XLSmart merespons dengan menaikkan belanja modal (capex) pada 2026 untuk mendukung pengembangan jaringan. Chief Product Partnership & Business Development, Tony Wijaya, menegaskan bahwa perusahaan tidak berhenti di konektivitas semata, melainkan hadir di setiap lapisan kebutuhan digital perusahaan melalui ekosistem yang terintegrasi, dari analitik visual hingga platform enterprise.
Analisis Redaksi
Keputusan XLSmart meningkatkan target dari 88 ke 101 kota menunjukkan kesiapan finansial dan teknis yang lebih tinggi dari perkiraan awal industri. Akuisisi spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz bukan sekadar penambahan aset, tetapi lompatan strategis untuk mengisi kekosongan kapasitas di area urban dan memperluas jangkauan di pedesaan. Ini menggeser persaingan dari sekadar jumlah menara menjadi kualitas dan densitas jaringan.
Yang perlu diwaspadai adalah eksekusi teknis integrasi spektrum baru dengan 15 ribu BTS yang sudah ada dalam waktu bersamaan. Kegagalan dalam manajemen trafik atau delay migrasi cloud dapat menghambat janji layanan bagi pelanggan korporasi yang bergantung pada latensi rendah untuk AI. Keberhasilan Esta Ecosystem sangat bergantung pada kestabilan infrastruktur dasar ini.
Secara logis, langkah selanjutnya adalah kompetisi harga dan nilai tambah layanan digital. Dengan capex yang dinaikkan, tekanan pada margin laba akan meningkat. Jika XLSmart berhasil, mereka tidak hanya menjadi penyedia akses, tetapi menjadi ekosistem tertutup yang sulit ditinggalkan oleh korporasi. Pengamat perlu memantau realisasi 101 kota tersebut sebelum akhir tahun untuk menguji efisiensi belanja modal ini.
