Abdul Muhaimin Iskandar Apresiasi Pameran Seni sebagai Terapi Pemulihan Anak Terdampak Bencana

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Abdul Muhaimin Iskandar Apresiasi Pameran Seni sebagai Terapi Pemulihan Anak Terdampak Bencana
BAGIKAN:

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar secara langsung mengapresiasi pameran karya seni yang diselenggarakan untuk anak-anak terdampak bencana. Langkah ini menegaskan bahwa seni bukan sekadar estetika, melainkan instrumen strategis dalam proses rehabilitasi psikologis pasca-krisis. Bagi Muhaimin, ruang ekspresi ini menjadi krusial bagi pemulihan mental anak yang kehilangan rasa aman akibat trauma bencana.

Abdul Muhaimin Iskandar menyatakan bahwa seni memberikan saluran emosional yang valid bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat. Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa melalui lukisan atau kreasi lainnya, anak dapat memproyeksikan ketakutan dan kesedihannya ke dalam bentuk yang lebih mudah dikelola. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding konseling verbal biasa yang sering kali sulit diterapkan pada anak-anak dengan trauma mendalam.

Pameran tersebut menjadi bukti nyata bahwa respons bencana tidak hanya berfokus pada logistik dan infrastruktur fisik, tetapi juga pada dimensi kemanusiaan yang seringkali terlupakan. Kehadiran karya seni dari para anak terdampak menunjukkan bahwa harapan masih tumbuh di tengah puing-puing kehidupan. Hal ini sejalan dengan prinsip pengelolaan bencana modern yang mengintegrasikan aspek sosial-emosional sebagai bagian dari rencana aksi pemulihan.

Langkah ini juga membuka ruang dialog antara pelaku seni, pemerintah, dan komunitas tentang kebutuhan spesifik kelompok rentan. Anak-anak tidak lagi diperlakukan sebagai obyek belas kasih, melainkan subjek yang memiliki kecerdasan emosional dan kapasitas kreatif tinggi. Muhaimin Iskandar melihat potensi besar dalam memanfaatkan potensi kreatif ini untuk mempercepat proses rekrutasi sosial keluarga yang terpisah akibat bencana.

Dampak jangka panjang dari inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi stigma psikologis yang melekat pada korban bencana. Dengan mempublikasikan karya mereka, masyarakat luas dapat melihat kedalaman trauma sekaligus ketangguhan anak-anak tersebut. Ini merupakan sinyal kuat bahwa pemulihan total harus menjangkau lapisan terdalam psikologi individu, bukan hanya perbaikan material rumah dan jalan.

Analisis Redaksi

Apresiasi oleh Menko PM terhadap seni sebagai terapi pemulihan anak terdampak bencana menandai pergeseran paradigma dalam penanganan bencana nasional. Selama ini, fokus utama sering kali terbelenggu oleh urgensi material seperti makanan dan tempat tinggal, sementara trauma psikologis anak-anak terabaikan. Langkah ini secara logis memaksa sistem kesehatan mental untuk merancang intervensi yang ramah anak dan berbasis seni, bukan sekadar psikiatri klinis yang rigid.

Yang perlu diwaspadai adalah keberlanjutan inisiatif ini. Apresiasi pejabat tinggi adalah awal yang baik, namun tanpa program pendanaan dan kurikulum pelatihan bagi relawan seni, dampak akan bersifat sementara. Masyarakat perlu diingatkan bahwa memamerkan karya anak bukan berarti memcomelkan trauma; ia harus dibungkus dengan pendekatan yang melindungi privasi dan martabat mereka.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah institusionalisasi model ini di setiap posko pengungsian. Jika seni terbukti efektif dalam pameran ini, maka modul pelatihan seni harus masuk dalam standar operasional prosedur (SOP) tanggap darurat bencana. Tanpa standardisasi, praktik baik ini akan tetap menjadi insidental dan tidak menyentuh mayoritas anak terdampak di pelosok yang jauh dari jangkauan media.

Meow! Tanya Nesi!
😸