Chris Hansen Kritik Akting Robert Pattinson di Film Primetime: Jauh dari Kenyataan
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Chris Hansen, mantan penyiar acara investigasi To Catch a Predator, mempertanyakan keakuratan akting Robert Pattinson dalam film Primetime. Menurutnya, penggambaran karakter tersebut terlampau dramatis dan tidak sesuai dengan pengalaman nyata di lapangan. Hansen menyatakan pendapat ini dalam wawancara dengan Variety pada Sabtu (26/9), menegaskan bahwa ia tidak objektif karena mengkritik representasi diri sendiri.
Hansen mengungkap bahwa ia sempat keluar dari kantor distributor A24 tanpa menonton film tersebut sampai habis. Keputusan itu diambil karena ia menolak menandatangani dokumen kesepakatan hukum yang diminta pihak studio. Ia menilai penggambaran Pattinson sebagai dirinya sendiri terasa aneh dan berbeda jauh dari dinamika yang sebenarnya terjadi saat melakukan investigasi.
Di sisi lain, Pattinson mencoba meredam kritik tersebut dengan harapan positif. Ia menyatakan bahwa pengaruh Hansen terhadap banyak orang selama bertahun-tahun seharusnya dianggap sebagai bentuk pujian, bukan serangan. Meskipun pihak keluarga Hansen menilai penampilan Pattinson cukup baik, Hansen tetap berdiri pada pendiriannya bahwa film tersebut tidak merefleksikan kenyataan.
Film Primetime berfokus pada transisi To Catch a Predator dari segmen Dateline NBC menjadi blok tayangan primetime pada tahun 2006. A24 menegaskan bahwa proyek ini diklasifikasikan sebagai film yang terinspirasi dari kisah nyata, bukan biopik resmi. Film ini telah tayang perdana di Venice Film Festival dan mendapat standing ovation selama tujuh menit sebelum dirilis di bioskop Amerika Serikat pekan ini.
Bagi penonton Indonesia, belum ada jadwal resmi mengenai tayang film ini di bioskop lokal. Namun, kontroversi antara figur asli dan aktris pemerannya menjadi diskusi hangat sebelum film tersebut diakses lebih luas. Penggambaran dramatis versus realitas investigasi menjadi inti perdebatan yang kini menyelimuti promosi film ini.
Analisis Redaksi
Pernyataan Hansen menyoroti celah umum antara fiksi yang terinspirasi dari kenyataan dan ekspektasi narasumber asli. Dengan melabeli film ini sebagai 'terinspirasi dari kisah nyata' alih-alih biopik, A24 memiliki ruang kreatif yang lebih luas, namun tetap menghadapi risiko reputasi jika perubahan artistik dianggap mendistorsi sejarah signifikan seperti tahun 2006 tersebut.
Penolakan Hansen untuk menonton film hingga akhir menunjukkan ketidaknyamanan mendalam yang melampaui sekadar kritik akting. Ini mengindikasikan isu kontrol narasi yang sering muncul ketika figur publik diadaptasi ke layar lebar, di mana batas antara penghormatan dan penyimpangan menjadi kabur bagi publik.
Dampak ke depan, perdebatan ini mungkin memengaruhi persepsi penonton terhadap kredibilitas film. Bagi kritisi, standing ovation di Venice menunjukkan apresiasi artistik kuat, namun suara dari subjek aslinya tetap menjadi pengingat bahwa akurasi historis adalah isu sensitif yang tidak dapat diabaikan dalam film berbau dokumenter atau semi-biopik.

