172 Mahasiswa PPDS Unair Dugaan Keracunan Massal Saat Pradik di RSUD Dr Soetomo
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ratusan mahasiswa pascasarjana kedokteran di Surabaya tumbang usai menyantap konsumsi dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) pada Senin (28/9). Kasus dugaan keracunan massal ini memukul 172 dari total 289 peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Peristiwa terjadi di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu lantai 7 RSUD Dr Soetomo saat acara rutin tersebut berlangsung.
Reaksinya cepat, tetapi data di lapangan menunjukkan skala yang serius. Kepala Bagian Umum RSUD Dr Soetomo, Robeth Jabbar Syahansyah, menyatakan dalam keterangan tertulis Selasa (29/9) bahwa dugaan awal penyebab gangguan kesehatan ini berasal dari makanan yang dikonsumsi. Gejala yang dikeluhkan para peserta didik berupa mual, muntah, dan pusing. Dari jumlah korban tersebut, enam orang mendapat penanganan langsung di RSUD Dr Soetomo. Empat di antaranya mendapat penanganan medis, sementara dua lainnya menjalani observasi. Seluruh peserta yang ditangani di fasilitas itu sudah diizinkan pulang.
Penanganan tidak hanya terpusat di RSUD Dr Soetomo. Dua peserta didik lain harus dirujuk ke fasilitas kesehatan berbeda untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai. Satu orang dirawat di RSAL, dan satu orang di RSUD dr Soewandhie. Langkah ini diambil karena kondisi sebagian korban dianggap membutuhkan penanganan lanjutan yang tidak tersedia di lokasi kejadian awal. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa keselamatan peserta didik menjadi prioritas utama dalam proses evakuasi dan pengobatan.
Investigasi forensik dan medis kini menjadi kunci pembuka kasus ini. RSUD Dr Soetomo telah mengambil sampel makanan dan melakukan pemeriksaan spesimen. Sampel tersebut dikirimkan ke laboratorium Puslabfor Polda Jawa Timur, Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagai bagian dari evaluasi, penyelenggara menghentikan sementara agenda Pradik pada Selasa (29/9). Koordinasi dengan Dinas Kesehatan juga sudah dilakukan untuk menelusuri rantai penyedia konsumsi oleh Fakultas Kedokteran Unair.
Respons institusi pusat masih dalam tahap menunggu. Hingga berita ini diturunkan, Unair belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden dugaan keracunan ini. Media terus berupaya menghubungi pihak kampus untuk meminta tanggapan. Namun, kabar beredar bahwa Unair dijadwalkan memberikan klarifikasi melalui konferensi pers yang digelar siang ini di RSUD Dr Soetomo. Antisipasi publik terhadap hasil pemeriksaan laboratorium menjadi fokus utama sebelum pernyataan resmi tersebut dirilis.
Analisis Redaksi
Insiden ini bukan sekadar masalah logistik konsumsi, melainkan ujian integritas keselamatan kerja di lingkungan fasilitas kesehatan rujukan nasional. Fakta bahwa ratusan calon spesialis dokter mengalami gangguan massal saat di dalam kompleks rumah sakit pusat menunjukkan potensi celah dalam manajemen risiko acara berskala besar. Keterlibatan Puslabfor dan BPOM mengindikasikan bahwa otoritas terkait mengklasifikasikan kasus ini sebagai potensi masalah pangan serius yang memerlukan bukti ilmiah forensik, bukan sekadar pemeriksaan klinis biasa.
Yang perlu diwaspadai adalah dampak psikologis dan legalitas yang menaungi para peserta didik. Sebagai mahasiswa spesialis yang dalam proses sertifikasi, gangguan kesehatan massal bisa berdampak pada jadwal akademik dan kesiapan klinis mereka. Secara organisasional, Unair dan RSUD Dr Soetomo harus membuktikan bahwa penanganan medis tidak tertunda demi citra institusi. Kecepatan pelaporan dan transparansi mengenai hasil laboratorium akan menentukan apakah kejadian ini berakhir sebagai insiden kelalaian administratif atau indikasi sistemik dalam standar keamanan pangan di fasilitas pendidikan kedokteran.


