Mahathir Ikuti Pemakaman Istri, Siti Hasmah, Berusia 100 Tahun dengan Kursi Roda
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Jenazah Siti Hasmah Mohamad Ali, istri mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, dimakamkan di Makam Negara Putrajaya pada Senin sore (28/9) dalam prosesi kenegaraan. Kehadiran para pemimpin politik dari berbagai kubu, termasuk PM Anwar Ibrahim dan Rosmah Mansor, menandai berakhirnya satu era bagi keluarga Mahathir yang telah menjadi simbol penting dalam lanskap politik dan sosial negara tersebut.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat di Presint 20, disaksikan oleh keluarga, kerabat, dan pendukung. Tampak Mahathir, yang kini berusia lanjut, datang menggunakan kursi roda dengan nasal kanul atau selang oksigen di hidungnya. Keadaannya yang rapuh menjadi kontras dengan keharuan para pelayat yang berkumpul di sekeliling liang lahat saat jenazah diturunkan.
Doa dipimpin oleh Imam Besar Masjid Putra, Muhamad Zakuwa Rodzali, yang dibacakan secara khidmat. Prosesi dilanjutkan dengan ritual tradisional penaburan bunga rampai dan air mawar oleh Mahathir, diikuti oleh anak-anak serta anggota keluarga lainnya. Kehadiran masyarakat umum turut memadati area pemakaman, memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah.
Para pemimpin politik seperti PM Anwar Ibrahim beserta istrinya, Wan Azizah Wan Ismail, hadir memberikan penghormatan. Istri eks PM Najib Razak, Rosmah Mansor, juga terlihat di masjid tersebut. Kehadiran lintas kubu ini menyoroti posisi khusus Mahathir sebagai figur transendental di kancah politik Malaysia, di mana rivalitas politik ditundukkan demi penghormatan terhadap keluarga.
Siti Hasmah meninggal dunia di National Heart Institute pada Senin pagi dalam usia 100 tahun. Lahir di Klang, Selangor, pada 12 Juli 1926, ia tercatat sebagai salah satu dokter perempuan pertama di Malaysia. Pengabdiannya di dunia medis dan isu sosial menjadikan sosoknya inspirasi bagi perempuan Malaysia lintas generasi, melampaui label 'istri Mahathir'.
Analisis Redaksi
Meninggalnya Siti Hasmah pada usia 100 tahun bukan sekadar peristiwa personal, melainkan penanda berakhirnya sebuah masa di mana pasangan Mahathir berperan sentral dalam dinamika sosial Malaysia. Statusnya sebagai pelopor medis perempuan memberikan dimensi historis yang membedakannya dari figur pendamping politik biasa. Penghormatan lintas faksi politik yang hadir di pemakaman menunjukkan bahwa dalam tradisi Malaysia, martabat seseorang sering kali melekat pada reputasi personal dan kontribusi sosial, yang dalam hal ini, jauh melampaui kutub-kutub politik yang selama ini memecah belah negara.
Secara simbolis, kehadiran Anwar Ibrahim dan Rosmah Mansor secara bersamaan di sisi Mahathir mengirimkan pesan rekonsiliasi negara yang patut dicermati. Di tengah polarisasi politik yang masih kuat, momen duka ini menjadi ruang jeda yang langka. Langkah logis selanjutnya adalah bagaimana energi keharmonisan singkat ini dapat dijaga untuk stabilitas negara, mengingat Mahathir yang saat ini sedang sakit, kemungkinan besar akan semakin meminimalkan keterlibatannya dalam politik aktif, menyerahkan kendali kepada generasi penerus.


