Dewa Budjana Ingatkan Warisan Guruh Soekarnoputra di Dunia Musik Pop

Selebriti
Nadia PutriNadia Putri
Sumber: KapanLagi
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Dewa Budjana Ingatkan Warisan Guruh Soekarnoputra di Dunia Musik Pop
BAGIKAN:

Gitaris legendaris Dewa Budjana mengenang kolaborasi musikal bersama mendiang Guruh Soekarnoputra usai menghadiri prosesi pemakaman di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Sabtu (26/9/2026). Musisi itu membuka kembali memori kerja samanya dengan sang budayawan, mulai dari panggung bersama grup band GIGI hingga duet dengan almarhum Chrisye. Kehadirannya di sana bukan sekadar memberi penghormatan terakhir, melainkan menjadi momen refleksi atas jejak Guruh di industri musik.

Kolaborasi lintas generasi menjadi catatan penting dalam ingatan Dewa. Ia menyebut, interaksi antara GIGI dan Guruh terjadi beberapa kali, khususnya saat membawakan lagu ikonik Lelaki Super. "Beberapa kali sih dengan GIGI, waktu membawakan lagu Lelaki Super. Terus ada lagi yang lainnya dengan Mas Chrisye juga," ujar Dewa Budjana saat ditemui di lokasi pemakaman. Pernyataan ini mengkonfirmasi bagaimana Guruh kerap menjadi jembatan penghubung bagi para musisi besar di era 90-an dan 2000-an.

Dewa Budjana juga menanggapi pernyataan Rano Karno yang menyebut Indonesia kehilangan sosok budayawan besar. Bagi Dewa, label tersebut sangat tepat. "Iya, seperti saya bilang tadi, beliau memang di dunia seni ya. Yang menguasai budaya," kata Dewa Budjana. Pengakuan ini menegaskan posisi Guruh bukan hanya sebagai komposer, tapi sebagai kurator budaya yang memahami kedalaman seni Nusantara.

Posisi strategis Guruh dalam sejarah musik Indonesia dipertegas lewat perbandingan internasional yang dibuat Dewa. Ia melihat Guruh sebagai pelopor perpaduan musik tradisional dan modern di musik pop Tanah Air. "Kalau saya bilang mungkin hampir sama dengan di India ada Ravi Shankar yang memadukan ke musik barat. Nah, Mas Guruh ini orang pertama yang melakukannya di musik pop," ujar Dewa Budjana. Perbandingan dengan Ravi Shankar menempatkan Guruh dalam konteks global, menunjukkan dampak karya-karyanya yang melampaui batas lingkaran domestik.

Sebelum meninggalkan lokasi, Dewa Budjana menyampaikan doa tulus untuk keluarga besar Guruh. "Ya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan ya, seluruh keluarga," kata Dewa Budjana. Lebih dari sekadar belasungkawa, ia juga menyampaikan harapan personal bahwa institusi kesenian yang didirkan Guruh, Swara Maharddhika, dapat terus beroperasi. "Dan Swara Maharddhika tetap bisa berjalan tanpa Mas Guruh," pungkas Dewa Budjana. Harapan ini mengindikasikan kesadaran bahwa warisan intelektual dan artistik Guruh perlu dijaga keberlangsungannya melalui mekanisme organisasi yang kuat.

Analisis Redaksi

Pernyataan Dewa Budjana memiliki bobot lebih dari sekadar kenangan personal; ini adalah validasi dari salah satu tokoh musik terbesar bangsa tentang signifikansi Guruh Soekarnoputra. Dengan menyandingkan Guruh dengan Ravi Shankar, Dewa mengukuhkan posisi Guruh sebagai inisiator era baru musik pop Indonesia yang berakar pada identitas lokal namun tetap relevan secara global. Ini adalah narasi penting yang mungkin sering terabaikan oleh industri yang lebih cenderung memuja musisi arus utama Barat.

Harapan terhadap keberlangsungan Swara Maharddhika mengindikasikan adanya kekhawatiran akan terputusnya kesinambungan ideologis dalam dunia seni. Banyak organisasi kesenian di Indonesia bergantung terlalu kuat pada figur pendirinya. Tanpa struktur penerus yang jelas, risiko terfragmentasinya pengetahuan tentang praktik fusion music bisa terjadi. Publik dan institusi seni perlu memetakan aset intelektual Guruh—bukan hanya lagunya, tapi metodologi komposisi dan filosofi budayanya—agar tidak hilang bersama kepergiannya.

Langkah logis selanjutnya adalah dokumentasi mendalam terhadap rekaman dan sketsa komposisi Guruh, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di Swara Maharddhika. Industri hiburan dan lembaga negara perlu melihat ini bukan hanya sebagai isu nostalgia, tapi sebagai investasi budaya. Kehilangan figur sekelas Guruh bukan hanya kehilangan seniman, tapi kehilangan pemikir yang membentuk cara kita mendengarkan musik.

Meow! Tanya Nesi!
😸