Ubed Pukuli Weng Hong Yang, Indonesia Rampas Emas Beregu Putra Asian Games 2026 Lawan China
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Final beregu putra Asian Games 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium berakhir dengan dramatis ketika Moh Zaki Ubaidillah mengunci kemenangan Indonesia atas China dengan skor 3-2. Turnamen yang menghadirkan ketegangan tinggi ini dimenangkan tim Merah-Putih setelah berhasil membalikkan keadaan dari keterpurukan 0-2 menjadi kemenangan mutakhir. Peristiwa ini terjadi di Jepang, menandai berakhirnya dominasi emas beregu putra China sekaligus mengubur kekalahan telak Indonesia di turnamen lain tahun ini. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri puasa gelar beregu putra yang telah berlangsung selama 28 tahun. Dengan suara gemuruh dari tribun, Ubed berteriak lepas saat skor final 21-13 di gim kedua mengonfirmasi juara.
Secara kronologis, laga ini dimulai dengan sorotan tajam pada Alwi Farhan. Ia turun ke lapangan saat Indonesia sudah tertinggal 0-2 dari China. Kondisi ini mencerminkan suasana di Thomas Cup beberapa bulan sebelumnya ketika Indonesia kalah dari Prancis. Saat itu, Farhan juga bermain saat skor 0-1 dan gagal menekan lawan. Di final Asian Games, dinamikanya berubah total. Farhan membuktikan bahwa tekanan bukan lagi sumber ketakutan, melainkan pemicu kekuatan. Ia menang dramatis dengan skor 23-21, 15-21, 21-16. Kemenangan tunggal ini menjaga harapan hidup tim dan membuka jalan bagi pasangan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin.
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin tampil sebagai penentu penentu di partai keempat. Mereka sebelumnya tidak ada dalam skuad saat kekalahan dari Prancis, karena baru kembali berpasangan setelah pemisahan pada 2024. Mengetahui tanggung jawab berat, mereka langsung berhadapan dengan He Jiting/Liu Yi. Duel mereka berjalan sengit di gim pertama dengan skor 23-21. Setelah mengamankan gim pembuka, dominasi pasangan Indonesia makin terlihat. Gim kedua mereka menangkan dengan skor meyakinkan 21-10. Hasil ini mengubah skor menjadi 2-2 dan memaksa laga berlanjut ke partai kelima yang menentukan.
Bobot pertandingan berpindah ke pundak Moh Zaki Ubaidillah. Pemain berusia 19 tahun ini memegang nasib Indonesia di gim penentuan. Di kegagalan Thomas Cup sebelumnya, Ubed hanya duduk di bangku cadangan menyaksikan kekalahan terburuk dalam sejarah timnas. Kali ini, ia turun langsung menghadapi Weng Hong Yang. Lawannya delapan tahun lebih tua dan memiliki keunggulan jam terbang yang signifikan. Namun, usia dan pengalaman tidak menjadi penentu tunggal di lapangan. Ubed menunjukkan kematangan performa yang nyaris sempurna, membantah asumsi bahwa junior selalu kalah dari senior berpengalaman.
Ubed memimpin Weng Hong Yang dengan permainan agresif dan efisien. Di gim pertama, ia sempat tertinggal 16-20, sebuah momen kritis yang sering mematahkan motivasi pemain muda. Namun, Ubed mampu membalikkan keadaan dengan skor 23-21. Mentalitas pantang menyerah ini berlanjut ke gim kedua. Ia menguasai jalannya pertandingan secara utuh dan menutup laga dengan skor 21-13. Skor akhir 3-2 untuk Indonesia mengukir tinta emas. Kekalahan Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri tertutup oleh performa kolektif Alwi Farhan, Leo/Daniel, dan Ubed. Rangkaian kemenangan atas Malaysia dan Thailand di fase sebelumnya membuktikan kekuatan tim ini setara level turnamen elit dunia.
Analisis Redaksi
Kemenangan ini menjadi koreksi historis atas kegagalan Thomas Cup 2026. Di tahun yang sama, Indonesia mencatat hasil buruk di turnamen beregu terakbar, namun berhasil menyelamatkan reputasi dengan meraih emas Asian Games. Fakta bahwa tim mampu bangkit setelah kalah dari Prancis di fase grup menunjukkan kedalaman skuad dan kematangan taktik. Status unggulan pertama Indonesia terbukti bukan sekadar basa-basi sebelum turnamen, melainkan prediksi berbasis data yang terkonfirmasi di lapangan.
Adapun penampilan Moh Zaki Ubaidillah adalah sinyal transgenerasi yang harus dipetakan serius. Ia membuktikan bahwa jam terbang bukan segalanya; mentalitas kompetitif di bawah tekanan ekstrem adalah faktor pembeda. Bagi federasi, ini adalah bahan evaluasi untuk strategi regenerasi pemain. Ubed kini berdiri sebagai pilar baru yang mampu diandalkan di partai penentu, menggantikan dominasi tunggal senior yang sempat ragu-ragu di ajang sebelumnya.
