Trump Dikabarkan Enggan Temui Netanyahu di PBB, Sinyal Keretakan Relasi AS-Israel?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan enggan menemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah berkunjung ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB pada Kamis (24/9). Jurnalis Times of Israel Lazar Berman sebelumnya melaporkan bahwa Netanyahu berusaha mengatur pertemuan dengan Trump, namun presiden AS itu "tampaknya tak bersedia mewujudkann."
Narasi resmi dari Jerusalem berbeda jauh. Salah satu sumber pemerintah Israel menjelaskan bahwa ketiadaan pertemuan tersebut murni disebabkan oleh "kendala jadwal." Sumber itu bahkan membantah rumor bahwa situasi ini mencerminkan hubungan yang memburuk, khususnya pasca-perang AS-Iran. "Tak yakin apakah dukungan dan promosi dari presiden bisa membantu dia [Netanyahu]," kata sumber tersebut saat menanggapi isu memburuknya relasi personal.
Benang merah ketegangan ini dapat ditelusuri ke keputusan Trump pada April lalu, di mana ia memilih gencatan senjata dan meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang pada Juni. Langkah itu disebut-sebut melemahkan popularitas Netanyahu di dalam negeri. Ketidaksenangannya terlihat jelas saat Netanyahu tampak murka terhadap kebijakan gencatan senjata tersebut, sebuah friksi yang kini kembali menghangat di meja Sidang PBB.
Netanyahu tiba di AS pada Kamis pagi dan mendarat di bandara militer New Jersey sebelum melanjutkan perjalanan ke New York. Namun, agenda diplomatiknya tidak berjalan mulus. Sebelum keberangkatan, ia sempat memprovokasi publik dengan sesumbar akan membongkar "kebusukan" Wali Kota New York, Zohran Mamdani, yang ia tuduh memicu kerusuhan terhadap warga Yahudi di kota tersebut.
"Anda (Mamdani) memalukan karena memicu kerusuhan terhadap warga Yahudi di New York," tegas Netanyahu. "Saya akan datang ke PBB, saya akan menyampaikan kebenaran tentang tentara-tentara kami yang heroik, dan saya akan menyampaikan kebenaran tentang Anda," lanjutnya. Pernyataan keras ini mengindikasikan bahwa kunjungan kali ini sarat dengan agenda politik dalam negeri yang lebih berat daripada sekadar diplomasi multilateral.
Analisis Redaksi
Ketiadaan pertemuan puncak antara pemimpin dua negara sekutu senior ini bukanlah sekadar urusan logistik. Ketidakmauan Trump, jika benar, mengirim sinyal bahwa Washington sedang mengambil jarak strategis dari kebijakan keras Netanyahu, setidaknya terkait isu gencatan senjata yang telah disepakati pada Juni. Bagi New York dan komunitas Yudaic setempat, provokasi Netanyahu terhadap Wali Kota Mamdani menambah lapisan friksi domestik yang rumit.
Mengingat latar belakang keputusan gencatan senjata sebelumnya yang mengikis dukungan domestik Netanyahu, ia kini memposisikan diri sebagai pihak yang teraniaya di hadapan publik AS. Dengan menyebut tentara Israel sebagai "heroik" dan menyerang figur lokal, ia berusaha menggalang simpati basis pendukungnya di sini. Kita bisa mengantisipasi bahwa tekanan publik dari komunitas Yudaic di New York akan menjadi medan pertempuran berikutnya, memaksa kedua pemimpin untuk berhitung ulang posisi mereka di panggung internasional.


