Guruh Soekarnoputra berpulang pada Sabtu (26/9) dalam usia 73 tahun, setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, akibat sakit yang ia derita beberapa waktu terakhir. Kabar wafatnya cucu Presiden pertama RI ini dikonfirmasi oleh politisi PDIP, Cyril Raoul Hakim atau Ciko Hakim. "Benar (beliau meninggal)," kata Ciko Hakim kepada CNNIndonesia.com. Penegasan serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum PDIP, Hasto Kristiyanto, melalui keterangan tertulisnya. "Inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak MOHAMMAD GURUH IRIANTO SUKARNOPUTRA BIN SUKARNO pada usia 73 tahun," ujar Hasto.
Sejarah panjang Guruh dalam dinamika politik nasional tidak dapat dilepaskan dari posisinya sebagai kakak kandung Presiden Joko Widodo yang mendiang. Namun, di usia senjanya, ia memilih untuk tetap aktif di kancah sosial dan budaya, sebuah pilihan yang menurut Surya Paloh telah didengar dan diikuti oleh Guruh. Anjuran Surya untuk mundur dari perebutan pucuk pimpinan partai bukan sekadar saran personal, melainkan refleksi dari keprihatinan publik terhadap usia dan kondisi kesehatan para tokoh politik senior yang masih ingin terus berebut kursi kekuasaan. Fakta bahwa Guruh "mengikuti" saran tersebut menunjukkan adanya dialog internal yang intens di antara tokoh-tokoh lintas partai menjelang penutupan masa hidupnya.
Peristiwa wafatnya Guruh ini datang di tengah kekosongan figur-figur legendaris dari era reformasi dan pra-kemerdekaan Indonesia. Sebagai representasi keluarga Sukarno, Guruh memegang simbolisme nasionalis yang kuat di mata publik. Ketidakhadirannya meninggalkan ruang kosong bukan hanya bagi PDIP, tetapi juga bagi narasi sejarah politik Indonesia. Proses pemakaman dan penghormatan terakhir ini melibatkan berbagai elemen pemerintahan dan partai politik, menunjukkan posisi sentral yang masih dijatuhkan kepada keluarganya di mata elite politik nasional.
Dampak dari meninggalnya Guruh tidak hanya sebatas duka cita, tetapi juga memicu diskusi baru mengenai regenerasi kepemimpinan partai-partai besar yang masih memegang tradisi kepemimpinan personal. Sementara sebagian elite masih berpegang pada figur kharismatik keluarga, generasi politisi baru mulai mengisi struktur melalui mekanisme internal yang lebih birokratis. Bagi publik, wafatnya Guruh menandai berakhirnya satu bab kisah seorang putra proklamator yang pernah mencoba kembali ke panggung politik tertinggi. Ia telah menuntaskan perjalanannya, membiarkan seni dan budaya menjadi panggung terakhir yang ia kemasu dengan penuh pengabdian.
Analisis Redaksi
Peringatan Surya Paloh yang terlanjur menguap seiring kepergian Guruh mengisyaratkan adanya kesadaran kolektif di lingkaran elite politik Indonesia akan batas kapasitas dan etika kekuasaan. Anjuran untuk "fokus ke seni budaya" dapat ditafsirkan sebagai diplomasi halus untuk mencegah konflik internal atau perebutan posisi yang tidak produktif di tengah dinamika partai. Ini adalah bentuk manajemen kaderisasi yang tidak selalu tercatat dalam AD/ART, melainkan terjadi dalam konsultasi personal antar pimpinan partai.
Yang perlu diwaspadai adalah potensi sentimen politik yang memunculkan figur-figur pengganti dari lingkaran dekat, baik dari PDIP maupun Nasdem, yang akan mengisi kekosongan simbolis ini. Masyarakat sipil dan pemilih harus kritis terhadap klaim legitimasi yang berbasis pada garis keturunan atau historisitas figur, mengingat proses demokratisasi saat ini menuntut kompetensi manajerial partai, bukan sekadar kharisma personal. Langkah selanjutnya secara logis adalah bagaimana partai-partai besar mempercepat proses suksesi internal agar tidak terjadi stagnasi ideologis akibat bergantung pada figur tunggal yang kini telah tiada.