Karangan Bunga Banjiri Rumah Duka, Ratusan Tokoh Duka atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra

Hiburan
Rio DewantoRio Dewanto
Sumber: CNN Nasional
Rio Dewanto
Rio Dewanto
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Karangan Bunga Banjiri Rumah Duka, Ratusan Tokoh Duka atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra
BAGIKAN:

Keheningan di kediaman resmi putra bungsu Presiden Soekarno, Guruh Soekarnoputra, di Jl. Sriwijaya Raya No. 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kini ramai oleh deretan karangan bunga. Arus kunjungan ke rumah duka tersebut mulai deras sejak kabar kepergian figur sentral dalam lanskap seni dan politik Indonesia itu tersiar luas. Suasana kehilangan itu tidak hanya datang dari kalangan keluarga, tetapi juga dari para pengambil kebijakan tingkat nasional hingga lokal, menandai betapa luasnya jejak pengabdian yang ditinggalkan almarhum pada usia 73 tahun.

Kehadiran karangan bunga tersebut bukan sekadar prosesi duka, melainkan bentuk penghormatan dari lintas spektrum pemerintahan. Nama-nama besar seperti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan, dan Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo tercatat sebagai pengirim pertama. Dari parlemen, dua wajah anggota DPR RI dari PDIP, Adian Napitupulu dan Sihar Sitorus, turut mengirim ungkapan belasungkawa. Kedatangan para pejabat ini menegaskan posisi Guruh bukan hanya sebagai musisi atau seniman, tetapi juga sebagai pejabat publik yang diakui kredibilitasnya.

Melampaui pengiriman karangan bunga, suasana haru semakin pekat dengan hadirnya tokoh-tokoh ternama yang secara langsung melayat. Ketua DPP PDI Perjuangan, Prananda Prabowo, tampak hadir memberikan dukungan moral. Kehadiran Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020-2024, Sandiaga Uno, serta politisi senior Akbar Tandjung dan sastrawan Addie MS, menggambarkan persahabatan dan kekaguman lintas generasi terhadap Guruh. Mereka tidak sekadar hadir sebagai rekan politik atau kolega, tetapi sebagai sahabat yang mengapresiasi dedikasi Guruh dalam membangun peradaban budaya Indonesia melalui musik dan seni pertunjukan.

Guru Soekarnoputra, yang lahir pada 13 Januari 1953, menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (26/9) setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, yang menyampaikan kabar duka tersebut, membaca kalimat inqilaah dengan khidmat. "Inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak MOHAMMAD GURUH IRIANTO SUKARNOPUTRA BIN SUKARNO pada usia 73 tahun," ujarnya. Prosesi kepergiannya ini menutup babak panjang seorang putra yang tidak hanya mewarisi darah biru nasionalis, tetapi juga mewariskan karya-karya abadi.

Sebelumnya, Guruh dikenal luas sebagai arsitek dari grup Guruh Gipsy yang bekerja sama dengan Chrisye, Keenan Nasution, dan Abadi Soesman, menciptakan lagu-lagu legendaris seperti Zamrud Khatulistiwa dan Galih dan Ratna. Latar belakang pendidikannya di Arkeologi University of Amsterdam dan gelar Magister Manajemen dari STIAMI menunjukkan keseimbangan antara jiwa seni dan ketajaman pikiran. Karier politiknya yang panjang, sejak bergabung dengan PDI tahun 1982 hingga mengabdi sebagai anggota DPR RI dari dapil Jawa Timur selama 25 tahun (1999-2024), membuktikan komitmennya terhadap demokrasi. Ia meninggalkan warisan tak ternilai, bukan hanya berupa catatan musik, tetapi juga integritas sebagai putra dari Fatmawati yang terus mengabdi hingga akhir hayatnya.

Analisis Redaksi

Kematian Guruh Soekarnoputra adalah penanda berakhirnya sebuah era bagi seni nasional Indonesia. Selama beberapa dekade, ia menjadi simpul penghubung antara semangat revolusi Soekarno dengan dinamika seni modern. Perhatian luas dari berbagai kalangan, mulai dari eksekutif hingga legislatif, mengindikasikan bahwa pengaruhnya melampaui batas-batas politik partai. Bagi publik, ini adalah momen refleksi atas peran seniman-politikus yang masih relevan dan dihormati secara personal hingga akhir hayatnya, bukan sekadar sebagai ikon institusional yang dingin.

Secara institusional, kepergiannya meninggalkan vacuum kepemimpinan moral dalam lingkaran inner circle PDIP yang kini harus diisi oleh generasi penerus. Namun, warisan karyanya bersifat permanen dan tidak tergantikan oleh jabatan manapun. Lembaga-lembaga budaya diharapkan bisa mengambil alih estafet penghormatan, dengan lebih serius melestarikan arsip dan karya Guruh agar tidak hilang dimakan zaman. Masyarakat sipil dapat mengisi ruang kosong ini dengan terus menghidupkan semangat kemanusiaan dan patriotisme yang ia tanamkan melalui lirik-lirik lagunya.

Meow! Tanya Nesi!
😸