Jenazah Guruh Soekarnoputra Tiba di Rumah Duka Pakai Ambulans PDIP, Dimakamkan Setelah 73 Tahun

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Jenazah Guruh Soekarnoputra Tiba di Rumah Duka Pakai Ambulans PDIP, Dimakamkan Setelah 73 Tahun
BAGIKAN:

Jenazah putra bungsu Presiden Pertama Indonesia, Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra, telah tiba di rumah duka di Jl. Sriwijaya Raya No. 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu (26/9) pukul 07.35 WIB. Prosesi pengantaran dilakukan menggunakan ambulans berlogo PDI Perjuangan, partai yang selama puluhan tahun menjadi wadah politik sang seniman dan politisi tersebut. Kehadiran jenazah ini menandai fase terakhir dari penghormatan publik terhadap sosok yang wafat pada usia 73 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Siloam Semanggi.

Pantauan langsung menunjukkan suasana rumah duka yang kondusif, dengan keluarga dan pengurus partai hadir untuk menerima almarhum. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, sebelumnya mengumumkan kabar duka ini dengan kalimat doa: "Inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak MOHAMMAD GURUH IRIANTO SUKARNOPUTRA BIN SUKARNO pada usia 73 tahun." Wafatnya Guruh menjadi penutup bagi satu era, mengingat usianya yang panjang dan perannya yang melampaui sekadar darah biru keluarga presiden.

Latar belakang Guruh Soekarnoputra menunjukkan perjalanan yang tidak biasa. Lahir pada 13 Januari 1953, ia adalah anak bungsu Soekarno dan Fatmawati, sekaligus adik kandung Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri. Pendidikannya beragam, mulai dari Perguruan Cikini, SMA Negeri 25 Jakarta, hingga studi Arkeologi di University of Amsterdam selama tiga tahun sampai 1974. Karier akademiknya berlanjut dengan gelar Sarjana Administrasi Publik dari STIAMI (2005-2008) dan Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen SDM pada 2010. Pola pendidikan ini menggambarkan seseorang yang terus mencari identitas di antara warisan politik ayahnya dan minat intelektualnya sendiri.

Identitas Guruh tidak bisa dilepaskan dari seni. Ia mendirikan grup kesenian Swara Mahardika, GSP Production, serta grup Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye. Dari sinilah lahir lagu-lagu legendaris seperti 'Kala Sang Surya Tenggelam', 'Melati Suci', 'Zamrud Khatulistiwa', 'Lenggang Puspita', 'Mahadaya Cinta', dan 'Galih dan Ratna'. Jejak karyanya di musik dan tari menjadikan ia ikon budaya yang berbeda dari rekaman politik formal. Bahkan, hidupnya pribadi juga mencatat momen pernikahan dengan Guseynova Sabina Padmavati asal Uzbekistan pada 2002, yang berakhir dengan perceraian pada 2009.

Dalam ranah politik, Guruh bergabung dengan PDI pada 1982 dan berlanjut ke PDIP sejak 1999. Ia mengabdi sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk daerah pemilihan Jawa Timur selama periode 1999-2024. Peran sebagai legislator selama puluhan tahun ini menunjukkan keteguhannya dalam struktur partai, sekaligus menjadi jembatan antara simbolisme keluarga Soekarno dan mesin politik modern. Wafatnya Guruh mengakhiri karier politik yang panjang, namun dampak kulturalnya melalui musik dan seni akan tetap hidup di ingatan publik Indonesia.

Analisis Redaksi

Wafatnya Guruh Soekarnoputra bukan sekadar kehilangan seorang anggota keluarga presiden, melainkan kepunahan simbolik dari penghubung langsung ke era Soekarno. Sebagai adik Megawati, ia menjembatani dinamika keluarga yang menjadi poros kekuasaan PDIP selama beberapa dekade. Pengiriman jenazah dengan ambulans berlogo PDIP menegaskan bahwa hingga akhir hayat, identitas politiknya tetap melekat kuat, sebuah pengakuan institusional terhadap loyalitasnya yang tidak goyah sejak 1982.

Secara budaya, hilangnya Guruh meninggalkan kekosongan figur yang memahami estetika Soekarno secara langsung. Karya-karyanya seperti 'Galih dan Ratna' adalah penafsiran artistik dari gagasan-gagasan besar Bung Karno, sebuah warisan intangibel yang kini tidak akan lagi mengalami perkembangan langsung dari sumbernya. Publik dan dunia seni Indonesia akan segera merasakan absennya perspektif sejarah yang hidup, karena Guruh adalah saksi kunci yang masih berbicara sebelum 73 tahunnya berakhir.

Meow! Tanya Nesi!
😸