Jenazah Guruh Soekarnoputra Dikebumikan di Karet Bivak, Megawati Ikut Mengantar
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Megawati Soekarnoputri mengantar adiknya, Guruh Soekarnoputra, ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Karet Bivak pada Sabtu (26/9) siang. Jenazah putra bungsu Presiden Soekarno ini diberangkatkan dari rumah duka pukul 13.16 WIB untuk dikebumikan di samping makam ibu mereka, Fatmawati. Prosesi pemakaman berlangsung khidat dengan pengawalan ketat aparat kepolisian, menandai akhir dari sebuah era bagi keluarga dinasti politik paling berpengaruh di Indonesia.
Ritual pemakaman dipantau langsung oleh Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDIP, yang menyampaikan kabar duka tersebut. Dalam keterangannya, Hasto mengutip kalimat doa resmi yang berisikan nama lengkap almarhum, Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra bin Soekarno, yang berpulang pada usia 73 tahun. Kehadiran tiga wanita yang turut masuk ke dalam mobil jenazah bergambar logo PDIP menambah nuansa keluarga dalam prosesi tersebut. Mobil ambulans tersebut tiba di area pemakaman dengan pengawalan ketat, memastikan penghormatan terakhir diberikan tanpa hambatan.
Sebelum wafat, Guruh menjalani perawatan intensif di RS Siloam Jakarta selama beberapa hari. Kepergiannya mengejutkan banyak pihak, mengingat rekam jejaknya yang panjang sebagai tokoh seni dan politik. Ia lahir pada 13 Januari 1953, dan pendidikan awalnya ditempuh di Perguruan Cikini sebelum melanjutkan ke SMA Negeri 25 Jakarta. Guruh juga sempat melangbang University of Amsterdam untuk studi Arkeologi hingga 1974. Pengalamannya di seni tari dan musik membentuk identitas uniknya yang berbeda dari saudara-saudaranya yang lain.
Secara karier profesional, Guruh memiliki fondasi akademik yang kuat di bidang administrasi. Ia meraih gelar Sarjana Administrasi Publik dari STIAMI pada periode 2005-2008, disusul Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen SDM pada 2010. Latar belakang akademik ini berjalan beriringan dengan ketertarikannya pada ranah kebijakan publik. Dalam konteks keluarga, ia merupakan adik dari Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, sebuah posisi yang memberikan tekanan publik tersendiri selama hidupnya.
Jejak Guruh di dunia politik tidak dapat dipisahkan dari kesetiaannya pada PDI, tempatnya bergabung sejak 1982. Ia resmi menjadi anggota DPR untuk masa jabatan 1999-2024 dari daerah pemilihan Jawa Timur. Namun, warisan terbesarnya mungkin terletak di dunia musik, di mana ia mendirikan grup Guruh Gipsy bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye. Lagu-lagu legendaris seperti "Zamrud Khatulistiwa" dan "Mahadaya Cinta" yang diciptakannya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan pop Indonesia. Wafatnya Guruh meninggalkan luka kolektif bagi pecinta seni dan pengamat politik nasional.
Analisis Redaksi
Kepergian Guruh Soekarnoputra mengakhiri satu fase penting dalam silsilah keluarga Soekarno yang masih bertahan di kancah publik Indonesia. Sebagai anggota keluarga yang paling muda dan memiliki latar belakang seni, ia menjadi jembatan antara dimensi humanistik keluarga presiden pertama dengan dinamika politik praktis PDI/PDIP. Keputusannya untuk tetap aktif sebagai anggota legislatif hingga usia tua menunjukkan dedikasi politik yang konsisten, meskipun ia lebih dikenal luas melalui karyanya sebagai musisi dan komposer.
Secara politik, wafatnya Guruh bisa dilihat sebagai sinyal transisi dalam struktur internal keluarga Cendana yang masih relevan dengan kaderisasi PDIP. Meskipun ia bukan aktor utama dalam pengambilan keputusan strategis partai saat ini, nilai simbolisnya tetap tinggi sebagai adik Megawati. Prosesi pemakaman di Karet Bivak, berdampingan dengan makam Fatmawati, memperkuat narasi sakralisasi garis keturunan Soekarno di mata pendukung partai. Ini adalah konsolidasi memori kolektif yang akan terus berpengaruh dalam dinamika elektoral partai di masa mendatang.
Dalam jangka panjang, publik perlu mengamati bagaimana partai menangani warisan politik dari keluarga Soekarno setelah kepergian tokoh-tokoh senior ini. Analisis logis menunjukkan bahwa tidak ada gangguan signifikan pada kepengurusan partai karena Megawati masih menjadi tokoh sentral. Namun, momentum pemakaman ini akan menjadi bahan refleksi internal bagi kader tentang pentingnya menjaga persatuan keluarga sebagai modal sosial politik yang terus hidup di tengah persaingan nasional yang semakin ketat.