Taufik Hidayat Haru Menangis Saksikan Emas Beregu Putra Asian Games 2026
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Wakil Ketua PBSI dan Wamenpora Taufik Hidayat menumpahkan air mata haru setelah tim badminton Indonesia berhasil merebut medali emas beregu putra Asian Games 2026 dengan mengalahkan tim tuan rumah China di partai final.
Momen emosional itu terjadi ketika Moh Zaki Ubaidillah mengunci kemenangan di game penentu. Taufik, yang menyaksikan langsung laga tersebut di Ichinomiya pada Kamis (24/9), terlihat tegang hingga wajahnya berubah lega dan menangis setelah smes silang Ubed tidak mampu dihalau Weng Hong Yang. Saat itu, selisih poin antara Ubed dan Weng Hong Yang sebenarnya sudah cukup besar, membuat ketegangan Taufik menjadi sangat terasa sebelum akhirnya pecah menjadi tangisan.
Pada laga final tersebut, Taufik duduk bersebelahan dengan Ketua PP PBSI Fadil Imran. Setelah kemenangan resmi dipastikan, Taufik bangkit dari kursi, mengepalkan tangan, dan langsung berpelukan dengan Fadil. Air mata haru tampak jelas di wajahnya sebelum ia ikut bergembira merayakan kemenangan bersama tim.
Taufik kemudian bertepuk tangan dan bersorak ke arah Tim Indonesia yang tengah merayakan kemenangan di lapangan. Reaksi ini menunjukkan betapa besarnya makna kemenangan ini bagi seluruh pihak yang terlibat dalam perjuangan tim nasional.
Keberhasilan tim Indonesia ini terasa luar biasa karena merupakan emas pertama di nomor badminton beregu putra setelah 28 tahun. Tidak hanya itu, kemenangan ini juga menjadi medali emas pertama bagi kontingen Indonesia di gelaran Asian Games 2026. Prestasi ini menandai momen bersejarah yang mengulang kembali semangat emas era baregu putra yang telah dinanti lama.
Analisis Redaksi
Emosi Taufik Hidayat yang terekam jelas di partai final ini bukan sekadar reaksi seorang atlet, melainkan cerminan beratnya beban ekspektasi di pundak federasi dan pemerintah. Peran ganda Taufik sebagai Wamenpora membuatnya memiliki tanggung jawab ganda, sehingga tangisan tersebut adalah pelepasan tekanan setelah puluhan tahun menunggu momen kebangkitan ini.
Kemenangan di Ichinomiya ini membuka lembaran baru bagi citra olahraga nasional di mata internasional. Sebagai emas pembuka kontingen, hasil ini berpotensi memantik gairah publik terhadap cabang olahraga lainnya yang akan segera memasuki puncak persaingan. Dukungan penuh dari pemerintah pusat kini akan menjadi faktor penentu di sisa lomba.
Dari sisi teknis, dominasi Indonesia di game penentu membuktikan kedalaman skuad yang matang. Namun, keberhasilan ini harus segera diikuti dengan evaluasi untuk menjaga performa, karena konsistensi di kejuaraan beregu menuntut kestabilan dari seluruh pemain, bukan hanya saat final. Publik akan menatap hasil akhir dengan lebih optimis, namun tetap kritis terhadap proses panjang yang mendahuluinya.

