Gempa Magnitudo 4.6 Guncang Wilayah Utara Ternate, BMKG: Aktivitas Tektonik Berjalan Normal

Bencana
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa Magnitudo 4.6 Guncang Wilayah Utara Ternate, BMKG: Aktivitas Tektonik Berjalan Normal
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4.6 mengguncang perairan di 155 kilometer barat laut Kota Ternate, Maluku Utara, pada Kamis (24/9/2026) pukul 23.05.25 WIB. Kepala Balai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah XI Gorontalo, berdasarkan data pusat gempa, menyebutkan bahwa episenter berada di koordinat 0.56° LS dan 127.43° BT dengan kedalaman hiposenter mencapai 10 kilometer. Dengan kedalaman tersebut, gempa ini dikategorikan sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh interaksi antar-lempeng tektonik di sekitar Dataran Ambalat.

BMKG menegaskan bahwa hasil pemodelan menunjukkan bahwa guncangan akibat gempa ini tidak berpotensi memicu tsunami. Meskipun demikian, masyarakat di pesisir utara Maluku Utara diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, namun tidak perlu panik karena kekuatan magnitudo 4.6 tidak tergolong ekstrem. Hingga saat ini, belum ada laporan kerusakan infrastruktur bangunan maupun korban jiwa yang signifikan dari dinas penanggulangan bencana daerah setempat. Pemantauan pasca-gempa tetap dilakukan oleh sensor-sensor seismograf di wilayah Maluku dan Sulawesi Utara untuk mengamati perkembangan aktivitas tektonik terkini.

Analisis Pakar Geofisika

Secara geologi, wilayah ini merupakan zona transisi yang kompleks antara Sesar Lematang dan zona subduksi lempeng. Sesar Lematang memiliki mekanisme geser-ke kanan yang memisahkan Blok Sunda dari Blok Sula-Banda Sea. Gempa di koordinat tersebut berindikasi kuat pada aktivitas sesar yang masih terus bekerja. Sejarah kegempaan di perairan utara Ternate menunjukkan pola episodik yang teratur. Potensi tsunami sangat kecil mengingat magnitudo yang relatif rendah dan kedalaman hiposenter yang dangkal, di mana volume air yang digerakkan tidak cukup besar untuk membangkitkan gelombang air laut yang signifikan. Gempa susulan mungkin akan terjadi dengan magnitudo lebih kecil akibat redistribusi patahan energi, namun tidak mengubah risiko tsunami secara drastis selama tidak ada pemicu lain yang mengubah dinamika tektonik setempat.

Meow! Tanya Nesi!
😸