Urban Farming Jakarta: Dari Kompos Sutarno hingga Majelis Sayur di Jagakarsa

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Urban Farming Jakarta: Dari Kompos Sutarno hingga Majelis Sayur di Jagakarsa
BAGIKAN:

Jakarta yang kian padat oleh beton dan pemukiman tidak mematikan semangat warganya untuk tetap memproduksi pangan. Di sela-sela keterbatasan lahan, ribuan pegiat urban farming mengubah atap rumah, gang sempit, hingga bantaran kali menjadi lumbur hijau. Data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat terdapat 1.399 titik lokasi dengan total luasan 138,38 hektare pada tahun 2025, dihuni oleh 2.814 orang penggiat per Agustus 2026.

Sutarno dan Yuliana, pasangan suami istri berusia 63 tahun di Sunter Jaya, Jakarta Utara, membuktikan bahwa usia bukan halangan. Keduanya pensiun dini dari profesi guru—Sutarno pada 2015 dan Yuliana pada 2023—untuk fokus sepenuhnya pada agrobisnis. Berawal dari pengelolaan sampah menjadi kompos sekitar 2008, mereka kini menaungi UMKM Utama Composter. Rumah mereka terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, disajikan bakwan daun kelor dan puding daun pegagan hasil panen sendiri dari rooftop.

“Awalnya memang bagaimana kita memanfaatkan media tanam saja. Tapi tanamnya di mana? Nah itu akan mengalir, muncul,” ujar Sutarno kepada CNNIndonesia.com, Senin (7/9). Ia menjelaskan bahwa teknologi bertani di kota muncul secara organik dari kebutuhan ruang, memungkinkan keluarganya memenuhi konsumsi sayur dari kebun sendiri. Kini, tanaman pangan seperti singkong, bayam, kangkung, hingga buah dalam pot (Tabulampot) seperti apel dan kedondong tumbuh subur di atap rumah mereka.

Nasib serupa dialami Suryana (56), Ketua RT di Setiabudi, Jakarta Selatan. Berbeda dengan Sutarno, Suryana memulai aktivitasnya sejak Oktober 2024 di atas dak rumahnya yang berada di dalam gang Kelurahan Pasar Manggis. Ia menerapkan sistem pertanian terintegrasi dengan memelihara lima ekor domba. Kotoran hewan tersebut diolah menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman cabai, tomat, terong, dan bawang merah. “Limbah ini itu kan bisa kita manfaatkan buat pupuk... Jadi alasannya itu kenapa kita melihara domba,” jelas pria yang akrab disapa Pak Nana itu.

Bagi Suryana, manfaat urban farming melampaui hemat belanja dapur. Ia merasakan dampak kesehatan dan spiritual melalui interaksi dengan alam. Burung, serangga, dan lebah kembali hinggap di lingkungannya, menciptakan siklus kehidupan yang ia sebut sebagai sedekah ekologis. Sementara itu, di wilayah perbatasan Jakarta-Depok, tepatnya Jagakarsa, kelompok muda bernama Majelis Sayur menghidupkan kembali tradisi agraris kawasan tersebut. Julian Riezki (40), salah satu pendiri Selasarasa Foodlab, menyatakan bahwa praktik di sana telah berevolusi menjadi urban agriculture.

Julian berargumen bahwa toponimi jalan-jalan di Jagakarsa seperti Jalan Durian, Pepaya, dan Srengseng Sawah menunjukkan sejarah panjang daerah itu sebagai sentra produksi pangan. Majelis Sayur hadir sebagai wadah setara tanpa struktur kepemimpinan kaku, mempertemukan berbagai inisiatif seperti hidroponik Youngsayur milik Ibnuh, pembibitan alpukat Ahmad Fahrizal, hingga pembuatan kompos Sophia Louretta lewat Tanialit. Abdul Latif (36), pengelola Pondok Aselih di bantaran kali, menegaskan bahwa esensi majelis ini adalah kekuatan kolektif warga dalam menjaga ketahanan pangan lokal.

Analisis Redaksi

Fenomena urban farming di Jakarta bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan respons adaptif terhadap krisis ruang hijau dan kerentanan rantai pasok pangan perkotaan. Keberadaan Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2018 memberikan payung hukum, namun keberhasilan nyata terletak pada otonomi warga seperti Sutarno dan Suryana yang mampu menciptakan ekosistem tertutup (closed-loop system) dari limbah ke pangan. Ini membuktikan bahwa ketahanan pangan tidak selalu bergantung pada impor atau distribusi jarak jauh, tetapi bisa dimulai dari skala mikro-rumah tangga.

Pergeseran paradigma dari 'menanam' menjadi 'budaya pertanian' di Jagakarsa juga patut dicermati. Jika sebelumnya urban farming dianggap hobi soliter, pendekatan kolaboratif ala Majelis Sayur menunjukkan potensi gerakan sosial-politik baru berbasis pangan. Langkah selanjutnya yang logis adalah integrasi program ini dengan kebijakan tata ruang kota agar lahan-lahan tidur dan bantaran sungai dapat dimanfaatkan secara legal dan berkelanjutan, mengurangi risiko konflik pemanfaatan ruang di masa depan.

Meow! Tanya Nesi!
😸