Jakpro Tutup Akses JPO KRL-JIS saat Konser The Weeknd, Tawarkan Shuttle Bus
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

PT Jakarta Propertindo (Jakpro) memutuskan menutup sementara akses Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) penghubung Stasiun KRL Jakarta International Stadium (JIS) menuju area stadion saat konser The Weeknd berlangsung. Keputusan ini diambil untuk kelancaran acara yang dijadwalkan pada 26 dan 27 September. Penutupan tersebut langsung memicu kritik tajam dari calon penonton yang merasa akses utama transportasi publik terganggu secara sepihak.
Dalam keterangan resminya yang dirilis Kamis (24/9), Jakpro menegaskan bahwa penutupan akses JPO dari Stasiun JIS menuju JIS berlaku selama periode pelaksanaan konser. Pihaknya menyediakan rute alternatif bagi para penggemar musisi bernama lengkap Abel Tesfaye tersebut. Penonton yang menggunakan KRL disarankan untuk turun di Stasiun JIS dan melanjutkan perjalanan dengan shuttle bus yang disediakan, atau menggunakan layanan ojek online menuju kawasan JIS.
Jakpro menjelaskan bahwa sejumlah petugas telah disiagakan di area stasiun serta titik-titik shuttle bus. Tugas mereka adalah membantu memandu dan mengarahkan alur pergerakan para penonton yang tiba di lokasi. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap pengumuman dari pihak promotor yang sebelumnya memicu gelombang keluhan karena ketiadaan akses langsung dari stasiun ke venue.
Pertanyaan dari publik bukan tanpa alasan. Posisi Stasiun KRL JIS berada tepat di samping stadion dan sudah dilengkapi fasilitas JPO yang terhubung langsung. Namun, ada kekhawatiran serius terkait batas waktu operasional kereta. Berdasarkan informasi resmi PT KAI via akun X @CommuteLine, layanan KRL lintas Tanjung Priok di Stasiun JIS hanya beroperasi mulai pukul 05.30 hingga 21.00 WIB. Ini menciptakan risiko logistik bagi penonton yang bergantung pada KRL sebagai moda pulang.
Jadwal konser memperburuk situasi mobilitas tersebut. The Weeknd dijadwalkan mulai manggung pada pukul 20.50 WIB. Dengan durasi konser yang biasa panjang, kemungkinan besar penonton baru mulai berdatangan keluar setelah pukul 21.00 WIB, saat layanan KRL sudah berenti. Kondisi ini berpotensi menyulitkan kepulangan ribuan penonton, memaksa mereka mencari alternatif transportasi lain di malam hari yang mungkin tidak lagi efisien atau tersedia dalam jumlah cukup.
Analisis Redaksi
Keputusan menutup JPO menunjukkan kesenjangan komunikasi antara pengelola infrastruktur kota, promotor, dan operator transportasi publik. Menutup jalur pejalan kaki utama yang sudah ada justru memindahkan beban logistik ke stasiun dan jalanan, yang mana kapasitasnya terbatas. Ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan soal manajemen kerumunan yang berisiko menimbulkan antrean panjang atau bahkan kemacetan di sekitar stasiun jika ribuan penonton tiba sekaligus di titik yang sama tanpa akses langsung.
Dampak paling nyata akan dirasakan penonton yang memiliki akses terbatas ke transportasi online atau shuttle. Ketergantungan pada KRL yang beroperasi hingga 21.00 WIB menciptakan 'jam hantu' bagi penonton. Jika konser berakhir lebih dari jam operasional, penonton dipaksa menunggu atau mencari angkutan tidak resmi yang berisiko mengancam keselamatan. Langkah selanjutnya yang logis adalah koordinasi ketat antara Jakpro, PT KAI, dan Promotor untuk mengoperasikan KRL dalam waktu ekstensi atau menyediakan shuttle bus dalam jumlah besar yang beroperasi sesuai jadwal akhir konser, bukan sekadar menutup akses tanpa solusi transportasi yang memadai.

