Pemerintah Kota Seoul Tunjuk KARINA, WINTER aespa dan RIIZE sebagai Duta Pariwisata

Hiburan
Rio DewantoRio Dewanto
Sumber: Antara News
Rio Dewanto
Rio Dewanto
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Pemerintah Kota Seoul Tunjuk KARINA, WINTER aespa dan RIIZE sebagai Duta Pariwisata
BAGIKAN:

Pemerintah Kota Seoul bersama Yayasan Pariwisata Seoul resmi menunjuk KARINA dan WINTER dari grup aespa serta boyband RIIZE untuk menggerakkan kampanye promosi pariwisata kota tersebut. Penunjukan ini menandai langkah strategis otoritas Korea Selatan dalam memanfaatkan pengaruh bintang K-pop untuk menarik wisatawan mancanegara.

Kampanye yang mengusung tajuk "Seoul Syndrome" ini menempatkan ketiga artis papan atas itu sebagai wajah utama promosi destinasi wisata ibu kota Korea Selatan. Narasi besar yang dibangun berpusat pada pesan emosional bahwa meskipun perjalanan fisik seorang turis telah berakhir, rindu akan suasana Seoul akan terus berlanjut di benak mereka.

Langkah kolaboratif antara pemerintah kota dan yayasan pariwisata ini bukan tanpa perhitungan matang. KARINA dan WINTER telah membuktikan daya tarik globalnya melalui berbagai pencapaian bersama aespa di panggung musik internasional. Sementara itu, RIIZE membawa basis penggemar muda yang masif dan sangat aktif di platform digital lintas negara.

Pelibatan figur publik dari industri hiburan dalam strategi diplomasi budaya bukanlah hal baru bagi Korea Selatan. Selama dua dekade terakhir, gelombang Hallyu telah menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif yang menyumbang devisa signifikan, khususnya dari sektor kunjungan wisatawan asing ke pusat-pusat kebudayaan di Seoul.

Bagi publik internasional dan para penggemar, penunjukan ini membuka akses pengalaman wisata yang lebih personal. Penggemar kini memiliki alasan tambahan sekaligus panduan kultural untuk menjelajahi sudut-sudut kota Seoul yang kerap muncul dalam konten visual para idola mereka tersebut.

Analisis Redaksi

Keputusan Pemerintah Kota Seoul menggandeng KARINA, WINTER, dan RIIZE menunjukkan pergeseran paradigma pemasaran pariwisata konvensional menuju pendekatan berbasis fandom. Otoritas kota tidak lagi sekadar menjual lanskap fisik, melainkan menawarkan ikatan emosional melalui figur yang sudah dicintai jutaan orang secara global.

Yang patut diwaspadai oleh pemangku kepentingan pariwisata di negara lain adalah kecepatan adaptasi Korea Selatan dalam mengonversi popularitas artis menjadi arus kunjungan nyata. Jika infrastruktur pendukung seperti transportasi, akomodasi, dan keamanan tidak disiapkan seirama dengan gencarnya promosi, lonjakan wisatawan berpotensi menciptakan masalah tata kelola perkotaan.

Secara logis, langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Yayasan Pariwisata Seoul adalah merilis rute perjalanan tematik atau peta digital interaktif yang terhubung langsung dengan lokasi-lokasi favorit para duta tersebut. Integrasi antara konten digital dan pengalaman fisik inilah yang akan menentukan seberapa efektif kampanye "Seoul Syndrome" bekerja dalam jangka panjang.

Meow! Tanya Nesi!
😸