DPR Uji Kelayakan 25 Calon Dubes RI untuk China hingga Inggris Berdasarkan Surpres Agustus 2026

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

DPR Uji Kelayakan 25 Calon Dubes RI untuk China hingga Inggris Berdasarkan Surpres Agustus 2026
BAGIKAN:

Komisi I DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap 25 calon duta besar Republik Indonesia untuk negara sahabat serta sejumlah organisasi internasional pada 21-23 September. Proses seleksi ini berpijak langsung pada Surat Presiden (Surpres) Nomor R39 tertanggal 10 Agustus 2026 yang memuat permohonan pertimbangan bagi para calon duta besar luar biasa dan berkuasa penuh tersebut.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad membacakan surat presiden itu dalam rapat paripurna di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (22/9). "Perlu kami beritahukan bahwa pimpinan dewan telah menerima surat dari presiden RI No R39 10 Agustus 2026 hal permohonan pertimbangan bagi calon duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk negara negara sahabat dan organisasi internasional," ujar Dasco di hadapan anggota dewan.

Posisi yang diperebutkan mencakup penugasan di kawasan strategis. Irawan Ronodipuro diajukan untuk Republik Rakyat Tiongkok merangkap Mongolia di Beijing. Baringin M.H. Panggabean disiapkan untuk Kerajaan Inggris merangkap Irlandia dan IMO di London. Desra Percaya ditunjuk menuju Republik India merangkap Kerajaan Bhutan di New Delhi. Ada pula Lintang Total Paramitasari Parnohadiningrat yang dicalonkan khusus untuk ASEAN berkedudukan di Jakarta.

Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono menegaskan bahwa lembaganya tidak akan menjalankan proses ini sekadar formalitas belaka. Dia menilai para duta besar merupakan wajah Indonesia di luar negeri sehingga pihaknya harus memastikan diplomasi berjalan efektif. "Karena itu, Komisi I DPR RI akan mencermati rekam jejak, kapasitas, integritas, serta pemahaman para calon terhadap arah politik luar negeri Indonesia," kata Dave.

Daftar lengkap 25 nama itu menjangkau hampir seluruh benua. Iwan Freddy Hari Susanto menuju Yordania, R. Heru Hartanto Subolo ke Yunani, Azis Nurwahyudi ke Kolombia merangkap Antigua dan Barbuda serta Federasi Saint Kitts dan Nevis. Sigit Suryantoro Widiyanto ditempatkan di Timor Leste. Albert Abdi dikirim ke Tanzania, R. Sigit Witjaksono ke Sudan, Darianto Harsono ke Srilanka merangkap Maladewa, Winanto Adi ke Kuwait, Epiphania Riris Wusananingdyah ke Peru merangkap Bolivia, Tri Tharyat ke Spanyol, Josef A. Nae Soi ke Filipina merangkap Kepulauan Marshall dan Palau, Bagus Hendraning Kobarsyih ke Kazakhstan merangkap Tajikistan, Achsanul Habib ke Kamboja, Wahyuni Refi Satya Bekti ke Bahrain, Ayodhia Gehak Lakunamang Kalake ke Afrika Selatan merangkap Botswana, Zaim Al Khalis Nasution ke Iran, Ratieh Sanggarwaty ke Tunisia, Mohammad Iskandarsyah Derry Aman ke Polandia, Dindin Wahyudin ke Selandia Baru, Dewi Justicia Meidiwaty ke Laos, dan Yulastiawarman ke Kroasia.

Pergantian perwakilan diplomatik dalam jumlah besar sekaligus ini membawa konsekuensi langsung bagi warga negara Indonesia di luar negeri. Layanan kekonsuleran, perlindungan hukum, hingga fasilitasi perdagangan akan bertumpu pada kapabilitas figur-figur yang baru lolos uji kelayakan tersebut. Publik berhak menuntut standar tinggi dari setiap orang yang kelak menyandang gelar duta besar berkuasa penuh atas nama negara.

Analisis Redaksi

Penempatan Irawan Ronodipuro di Beijing dan Baringin M.H. Panggabean di London memperlihatkan prioritas pemerintah menjaga poros hubungan dengan kekuatan ekonomi utama dunia. Rentang waktu antara penerbitan Surpres pada 10 Agustus 2026 hingga pelaksanaan uji kelayakan pada akhir September menunjukkan persiapan birokrasi yang cukup matang. Namun, kecepatan transisi tetap menjadi tantangan tersendiri agar tidak ada kekosongan koordinasi di pos-pos vital tersebut.

Pernyataan Dave Laksono tentang pencermatan rekam jejak dan integritas bukan sekadar basa-basi seremonial. Dua puluh lima pos diplomatik yang tersebar dari Bogota hingga Zagreb menuntut figur yang benar-benar memahami medan tugas masing-masing. Kegagalan seorang duta besar membaca dinamika politik lokal bisa merugikan kepentingan nasional secara langsung, terutama di kawasan rawan konflik seperti Timur Tengah dan Afrika.

Langkah selanjutnya yang patut dicermati adalah seberapa cepat hasil persetujuan Komisi I DPR ini ditindaklanjuti dengan pelantikan resmi oleh presiden. Penundaan pengisian jabatan di kedutaan besar kerap melemahkan daya tawar diplomasi kita. Pemerintah perlu memastikan para calon yang telah lolos segera berangkat ke pos masing-masing sebelum momentum kerja sama bilateral maupun multilateral terlewat begitu saja.

Meow! Tanya Nesi!
😸