Perpusnas Buka Bantuan Teknis agar Masyarakat Bisa Kelola Naskah Kuno Nusantara Sendiri

Budaya
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Perpusnas Buka Bantuan Teknis agar Masyarakat Bisa Kelola Naskah Kuno Nusantara Sendiri
BAGIKAN:

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) resmi memberikan fasilitas bantuan teknis kepada masyarakat yang memiliki koleksi maupun naskah kuno Nusantara. Langkah ini menyasar langsung para pemilik manuskrip di berbagai daerah yang selama ini kesulitan merawat warisan teks bersejarah secara mandiri. Program tersebut bertujuan memastikan ribuan lembar naskah tua tidak lapuk dimakan usia hanya karena ketiadaan pengetahuan preservasi dasar.

Bantuan teknis dari Perpustakaan Nasional mencakup panduan penanganan fisik manuskrip hingga metode penyimpanan yang memenuhi standar arsip. Petugas lembaga negara itu turun langsung memberi pendampingan kepada warga yang menyimpan koleksi pribadi. Pendekatan jemput bola semacam ini jarang dilakukan, mengingat mayoritas program pelestarian biasanya bersifat sentralistik dan mengharuskan pemilik menyerahkan naskahnya ke ibu kota.

Kekayaan teks kuno Indonesia tersebar luas di tangan masyarakat umum, keluarga keraton, pesantren, hingga tokoh adat setempat. Banyak di antaranya memuat catatan sejarah, resep pengobatan tradisional, hukum adat, dan literatur keagamaan yang belum pernah diteliti akademisi. Tanpa intervensi tepat, lembaran-lembaran berisi memori kolektif bangsa itu terancam hancur oleh kelembapan udara tropis dan serangan rayap.

Selama dua dekade terakhir saya meliput isu kebudayaan, persoalan utama pelestarian naskah selalu bermuara pada satu hal: jarak antara institusi negara dan pemilik sah dokumen. Pemilik enggan menyerahkan koleksi leluhur mereka karena alasan sentimental atau ketidakpercayaan terhadap birokrasi. Dengan menawarkan bantuan teknis alih-alih meminta penyerahan fisik, Perpusnas memotong akar kebuntuan klasik tersebut.

Dampak kebijakan ini akan terasa paling kuat di wilayah pelosok yang minim akses terhadap layanan konservasi profesional. Masyarakat kini memiliki bekal keterampilan dasar untuk menjaga aset budayanya sendiri. Ketika sebuah desa mampu merawat manuskrip peninggalan abad ke-16 tanpa harus menunggu tim dari Jakarta tiba, kedaulatan budaya lokal benar-benar menemukan bentuknya yang paling nyata.

Analisis Redaksi

Langkah Perpusnas membuka ruang bagi masyarakat untuk mengelola naskah kuno Nusantara merupakan pergeseran paradigma yang patut diapresiasi sekaligus dikawal ketat. Selama puluhan tahun, narasi pelestarian manuskrip selalu menempatkan negara sebagai penyelamat tunggal dan rakyat sebagai pihak yang pasrah menunggu giliran. Model baru ini membalikkan logika tersebut dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek utama penjaga sejarahnya sendiri.

Namun, ada sejumlah titik rawan yang wajib diwaspadai dalam eksekusinya. Bantuan teknis tanpa dukungan material seperti kertas bebas asam, kotak simpan khusus, atau pengatur suhu ruangan hanya akan menjadi teori di atas kertas. Risiko kesalahan penanganan oleh orang awam juga membayangi jika pelatihan diberikan secara terburu-buru tanpa mekanisme evaluasi berkala yang jelas.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus disiapkan adalah pembentukan jaringan relawan konservasi tingkat kabupaten atau kecamatan. Perpusnas perlu membangun basis data nasional yang mencatat keberadaan naskah-naskah milik warga ini tanpa memaksa pemindahan fisik. Hanya dengan cara itulah inventarisasi kekayaan intelektual masa lalu bisa berjalan beriringan dengan penghormatan penuh terhadap hak kepemilikan masyarakat adat dan individu.

Meow! Tanya Nesi!
😸