Mendes PDT Yandri Susanto Ajak Mahasiswa Jadi Pengusaha untuk Bangun Desa
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto secara langsung mengajak para mahasiswa untuk mengambil jalan sebagai pengusaha guna mengembangkan potensi desa di seluruh Indonesia. Seruan ini disampaikan sebagai dorongan agar generasi muda tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja yang berakar pada kekuatan ekonomi pedesaan.
Langkah Mendes PDT Yandri Susanto menyasar kalangan kampus bukan tanpa perhitungan matang. Mahasiswa memiliki kapasitas intelektual, jejaring sosial, dan energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda ekonomi desa. Mereka ditantang untuk melihat desa bukan sebagai tempat tertinggal, tetapi sebagai lahan subur bagi inovasi bisnis yang selama ini luput dari perhatian pelaku usaha perkotaan.
Ajakan ini menempatkan posisi kementerian dalam konteks yang lebih luas dari sekadar urusan birokrasi pembangunan fisik. Yandri Susanto memposisikan lembaganya sebagai katalisator perubahan pola pikir anak muda. Orientasi kebijakan kini bergeser dari pendekatan bantuan konvensional menuju pemberdayaan manusia yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Selama puluhan tahun, arus urbanisasi telah menyedot tenaga-tenaga terbaik desa ke kota-kota besar. Lulusan perguruan tinggi cenderung menumpuk di kawasan metropolitan, memperebutkan posisi terbatas di sektor formal. Kondisi ini meninggalkan ruang kosong di desa-desa yang justru membutuhkan sentuhan manajemen modern dan keberanian mengambil risiko bisnis.
Dampak dari seruan ini berpotensi mengubah arah migrasi kaum terpelajar Indonesia. Jika mahasiswa mulai melirik peluang wirausaha di wilayah asal mereka, perputaran uang tidak lagi tersentralisasi di Jawa atau kota-kota besar lainnya. Masyarakat desa akan merasakan langsung efek pengganda ekonomi ketika pemuda berpendidikan memilih pulang dan membangun usaha.
Tantangan terbesar tentu ada pada ekosistem pendukung. Semangat saja tidak cukup untuk melahirkan pengusaha tangguh. Akses permodalan, infrastruktur digital, serta kepastian hukum dalam berusaha di tingkat desa harus disiapkan secara paralel oleh pemerintah pusat maupun daerah agar ajakan ini tidak berhenti sebagai retorika panggung semata.
Analisis Redaksi
Ajakan Mendes PDT Yandri Susanto kepada mahasiswa mencerminkan pergeseran strategi pembangunan desa yang selama ini terlalu bergantung pada aliran dana transfer. Mengarahkan kaum terpelajar menjadi wirausahawan adalah langkah logis untuk memutus rantai ketergantungan. Desa tidak bisa terus-menerus disuapi program; desa butuh aktor-aktor ekonomi yang mampu membaca peluang pasar dari kekayaan lokal yang ada di depan mata mereka sendiri.
Namun, kita perlu mewaspadai jebakan romantisme pembangunan. Menjadi pengusaha di desa menuntut ketahanan mental yang berbeda dibandingkan berbisnis di kota dengan fasilitas serba lengkap. Tanpa pendampingan berkelanjutan dan penyederhanaan regulasi perizinan di tingkat kabupaten, semangat mahasiswa bisa padam sebelum bisnis mereka benar-benar berjalan. Pemerintah wajib memastikan bahwa jalur birokrasi tidak mencekik inisiatif muda ini sejak hari pertama.
Secara logis, langkah selanjutnya yang harus kita pantau adalah apakah kementerian akan meluncurkan skema inkubasi bisnis khusus mahasiswa yang terhubung langsung dengan koperasi dan UMKM desa. Jika program ini hanya berupa pidato motivasi tanpa struktur pendanaan dan pendampingan teknis yang jelas, maka seruan tersebut hanya akan menjadi angin lalu di tengah hiruk-pikuk politik nasional.