Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Destry Damayanti Siap Pimpin Bank Indonesia: Dampak Besar bagi Rupiah, Kebijakan Moneter, dan Independensi BI

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Destry Damayanti Siap Pimpin Bank Indonesia: Dampak Besar bagi Rupiah, Kebijakan Moneter, dan Independensi BI
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) kepada DPR RI.
  • Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri.
  • Para pakar menilai kredibilitasnya tinggi, namun menyoroti tantangan utama: menjaga independensi, koordinasi fiskal‑moneter, dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan Destry Damayanti sebagai satu-satunya nama calon Gubernur Bank Indonesia (BI) yang kini sedang diproses oleh DPR RI. Surat Presiden (surpres) yang memuat usulan tersebut sudah diserahkan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, kepada Ketua DPR RI Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pada konferensi pers Senin (10/8) di Kompleks Parlemen Senayan.

Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Senior Gubernur BI di bawah Perry Warjiyo, kini memegang posisi Pejabat Sementara Gubernur. Prasetyo menegaskan bahwa usulan ini bersifat definitif, sekaligus menyertakan nama calon pengganti untuk Deputi Senior Gubernur, serta usulan untuk posisi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan duta besar ke negara sahabat.

Penunjukan Destry sebagai calon tunggal dipandang oleh pasar sebagai sinyal kesinambungan kebijakan moneter. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, menilai bahwa pengalaman panjang Destry di dalam BI memberikan “continuity” yang dibutuhkan, sekaligus mengurangi ketidakpastian transisi kepemimpinan. Namun, ia menambahkan bahwa kredibilitas sejati akan diuji lewat komitmen menjaga independensi BI, konsistensi kebijakan, dan kemampuan mengambil keputusan di tengah tekanan ekonomi‑politik.

Di sisi lain, Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyoroti “pekerjaan rumah” berat yang menanti Destry: menjaga independensi BI meski pemerintah menekan untuk pertumbuhan yang lebih tinggi, serta mengelola stabilitas nilai tukar rupiah yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan geopolitik. Menurutnya, beban stabilitas kurs tidak dapat dibebankan pada satu figur Gubernur saja; ia memerlukan sinergi kebijakan fiskal, fundamental ekonomi, dan arus modal.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro yang telah mengamati dinamika kebijakan moneter Indonesia selama lebih dari satu dekade, saya melihat penunjukan Destry Damayanti sebagai langkah strategis yang mengurangi volatilitas pasar. Keberlanjutan kebijakan moneter sangat penting bagi investor institusional, terutama dalam konteks suku bunga global yang masih berfluktuasi. Destry sudah terbiasa dengan mekanisme manajemen likuiditas dan operasi pasar terbuka, sehingga transisi teknis tidak akan mengganggu stabilitas keuangan.

Namun, tantangan terbesar terletak pada arena politik. Pemerintah saat ini menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, sementara inflasi masih berada di kisaran 2‑3%. Gubernur BI harus menyeimbangkan dua mandat yang kadang berlawanan: stabilitas harga dan dukungan pertumbuhan. Jika Destry terlalu mengakomodasi tekanan fiskal, kredibilitas independensi BI akan tergerus, yang pada gilirannya dapat memicu premi risiko negara naik dan melemah

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸