Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Harga Minyak Turun ke US$111,84 di Tengah Harapan Damai Iran-AS

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Harga Minyak Turun ke US$111,84 di Tengah Harapan Damai Iran-AS
BAGIKAN:

Harga minyak dunia turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (2/11), setelah perundingan antara pejabat Iran dan Qatar berlanjut untuk mendorong kesepakatan yang mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Harga minyak mentah Brent melemah US$1,59 atau 1,40 persen menjadi US$111,84 per barel pada pukul 00.11 GMT.

Pada waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,56 atau 1,50 persen menjadi US$102,56 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pejabat Iran dan Qatar menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut. Perundingan tersebut difokuskan pada kelanjutan konsultasi melalui mediator Qatar.

Pasar masih mewaspadai eskalasi konflik

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer menilai pelemahan harga minyak merupakan koreksi teknis setelah penguatan tajam pada pekan sebelumnya. Harapan terhadap kemajuan diplomatik serta tidak adanya eskalasi militer besar selama akhir pekan untuk sementara meredakan tekanan harga.

Meski demikian, pasar masih mencermati potensi peningkatan ketegangan terkait Iran. Risiko tersebut dapat mendorong harga Brent mendekati US$120 per barel setelah pemilihan paruh waktu AS pada Selasa mendatang. Brent sendiri menutup perdagangan Oktober di level tertinggi dalam enam bulan.

Gangguan Selat Hormuz dan kebijakan OPEC+

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pembicaraan itu bertujuan melanjutkan konsultasi dengan mediator Qatar. Ia menegaskan Teheran siap menghadapi jalur pertahanan maupun diplomasi. Perundingan berlangsung ketika serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz meningkatkan biaya energi dan pengiriman global.

Di sisi lain, Arab Saudi dilaporkan meningkatkan ekspor minyak mentah pada Oktober dibandingkan September, meski infrastruktur energinya diserang kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran. OPEC+ juga memutuskan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember. Keputusan itu sejalan dengan ekspektasi pasar bahwa tidak ada perubahan kebijakan produksi hingga tahun depan, sementara perang Iran masih mengganggu ekspor.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸