Mandalika Bukan Sekadar Aspal Balap: Menakar Efek Domino Sport Tourism terhadap Ekonomi NTB
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

MATARAM – Sirkuit Internasional Mandalika kembali membuktikan fleksibilitasnya sebagai magnet ekonomi baru di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tidak lagi hanya mengandalkan deru mesin motor, kawasan ini baru saja bertransformasi menjadi arena olahraga massa melalui penyelenggaraan ajang lari yang menyedot perhatian ribuan peserta.
Tercatat sekitar 9.200 pelari, baik domestik maupun mancanegara, memadati lintasan Mandalika. Kehadiran massa dalam jumlah besar ini bukan sekadar seremoni olahraga, melainkan strategi terukur untuk mengaktivasi sektor sport tourism yang menjadi pilar pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah daerah berharap gelombang kunjungan ini mampu menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi pelaku UMKM, perhotelan, dan jasa transportasi lokal. Momentum ini sengaja diambil sebagai pemanasan sekaligus penguatan ekosistem pariwisata sebelum Mandalika kembali menyambut agenda balap internasional yang jauh lebih masif.
Catatan Redaksi: Menggugat Narasi 'Dongkrak Ekonomi'
Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati pola pembangunan infrastruktur skala besar di Indonesia, saya melihat fenomena ini dengan kacamata yang lebih kritis. Kita tidak boleh terjebak dalam euforia angka 9.200 peserta. Pertanyaan fundamentalnya adalah: Seberapa besar kebocoran ekonomi (leakage) yang terjadi?
Seringkali, event besar seperti ini hanya menguntungkan operator besar atau vendor dari luar daerah. Jika hotel yang terisi adalah jaringan internasional dan konsumsi peserta hanya berputar di zona komersial yang dikelola korporasi, maka klaim 'mendongkrak ekonomi NTB' hanyalah jargon politik yang manis. Kita perlu melihat apakah pedagang kaki lima di sekitar Praya atau pengrajin lokal benar-benar merasakan dampak finansial yang signifikan, atau mereka hanya menjadi penonton di pinggir jalan saat ribuan pelari melintas.
Lebih jauh lagi, ketergantungan NTB pada event-driven tourism (pariwisata berbasis acara) adalah strategi yang berisiko. Jika tidak dibarengi dengan pembangunan destinasi yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas SDM lokal, Mandalika hanya akan menjadi 'kota hantu' yang megah namun sepi di luar kalender event internasional. Kita tidak ingin melihat Sirkuit Mandalika menjadi monumen kemegahan yang gagal memberikan kesejahteraan nyata bagi masyarakat lingkar kawasan.
Prediksi saya, jika pemerintah tidak segera mengintegrasikan paket wisata olahraga dengan pemberdayaan desa wisata secara organik, maka dampak ekonomi dari ajang lari ini hanya akan bersifat temporer—seperti busa sabun yang cepat hilang setelah garis finis dilewati. Tantangan sebenarnya bukan pada mendatangkan orang, tetapi pada bagaimana memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan menetap di kantong rakyat NTB, bukan terbang kembali ke Jakarta atau luar negeri.
BERITA TERKAIT

Guncangan di Puncak Pidsus: Rudi Margono Ambil Alih Kemudi, Akankah Kasus 'Orang Dalam' Tuntas?

Ambisi Ekspor Ikan Baubau ke Tanah Suci: Terobosan Ekonomi atau Sekadar Wacana Birokrasi?
