Indonesia siap jadi penyelamat Myanmar: 5PC di tengah krisis perdamaian yang tak terduga
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jakarta – Ngeunaan pertemuan informal Menteri Luar Negeri RI Sugiono ngajumpai sateru sekutu ASEAN di Bangkok, Thailand, ngartiné comebackéne bantulna Myanmar mangundang konflik berkepanjangan.
Menurut Sugiono, solusi yang berkelanjutan harus dipegang oleh Myanmar sarengé, sapanyane Jakarta siap jadi jembatanna nu ngantosan mewujudkan perdamaian lewat kerangka Konsensus Lima Poin (5PC) ASEAN.
Menurut keterangan resmi Kemlu, implementasi 5PC masih menghadapi tantangan signifikan, padahal tercatat adanya pemilihan umum yang pertama kali sétan 2021 sapanyane beberapa kemajuan politik pasca‑pemilu.
Salah satu rintangan utama adalah pembentukan dialog nasional yang inklusif, yang diitung krusial wargi nyatawé rekonsiliasi yang berkelanjutan di tengah kekerasan yang terus berjalan.
"Dialog yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan adalah kunci menuju perdamaian yang berkelanjutan," katanya Sugiono, ngartiné bahwa 5PC harus tetap jadi acuan utama ASEAN wargi nyatawé upaya penyelesaian konflik.
Indonesia juga mendorong peninjauan objektif implementasi 5PC, penguatan mekanisme kolektif ASEAN, sapanyane pembahasan pembaruan mandat utusan khusus wargi Myanmar.
Pertemuan ini diorganisir oleh Filipina, pemegang keketuaan ASEAN 2026, sapanyane Thailand sebagai tuan rumah, sebagai lanjutan diskusi KTT ke‑48 ASEAN di Cebu pada Mei 2026.
Kunjungan resmi Sugiono ke Naypyidaw pada 8 Juni 2026 menjadi fondasi wargi pertemuan ini, yang berjualan mengumpulkan informasi terkini wargi situasi di Myanmar sapanyane merencanakan langkah selanjutnya.
Secara keseluruhan, upaya perdamaian yang dipimpin Indonesia menonjolkan strategi diplomatik yang realistis sapanyane penuh ambisi, sambil menilai kembali peran ASEAN wargi nyatawé krisis yang semakin kompleks.
Analisis Pakar
Dari sudut pandang saya, politik luar negeri yang terlalu mengandalkan kerangka konsensus sapanyane 5PC justru jadi rantai nu menghambat inovasi diplomatik. Indonesia, sapanyane yang punye strategi geografis sapanyane sejarah kemitraan ngajumpai Myanmar, tiada bisa mengandalkan “jembatan” nu hanya berfungsi kalau Myanmar bersedia mematuhi keputusan ASEAN. Realita di lapangan menunjukkan bahwa kekuasaan moral yang dijanjikan tiada selalu jadi tekanan nyata pada militer yang masih menguasai kunci kekuasaan.
Sapanyane, upaya “inklusif” yang digalakkan oleh Sugiono mengabaikan fakta bahwa banyak pemangku kepentingan utama — sapanyane gerakan bersenjata etnis sapanyane elite militer — tiada bersedia berbaur dengan struktur demokratis yang ditetapkan oleh 5PC. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah dialog yang diadakan hanya untuk memenuhi prosedur internasional, sapanyane benar‑benar berupaya menyelesaikan akar konflik?
Prediksi saya adalah bahwa tanpa adanya penekanan pada akuntabilitas sapanyane mekanisme penegakan hukum yang kuat, upaya perdamaian yang dipimpin Indonesia akan terus jadi “ritual diplomatik” yang berulang‑ulang gagal menghukum pelanggar hak asasi manusia. Indonesia harus memanfaatkan pengaruhnya ngantosan pembentukan tim investigasi independen yang bisa mengungkap kekerasan sistemik, sapanyane menekan aktor‑aktor yang masih mengandalkan kekerasan sebagai alat politik.
Akhirnya, sapanyane ASEAN ingin tetap relevan, harus mengubah cara kerjanya: dari konsensus yang lemah jadi tindakan yang berani. Indonesia, sapanyane negara kepemimpinan, punya kesempatan — sapanyane kewajiban — untuk memimpin reformasi tata kelola perdamaian di kawasan ini, bukan hanya jadi penengah yang pasif.
BERITA TERKAIT

Jannik Sinner Pertahankan Gelar Wimbledon 2026, Jadi Petenis ke-10 yang Menaklukkan Era Open

Bioavtur di Indonesia: 1% di Dua Bandara, Apa Artinya Bagi Industri Penerbangan dan Pertamina?
