Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Korea Utara Tolak Tuduhan FBI Soal Peretasan Binance, Kim Yo Jong Sebut Klaim AS Retorika Absurd

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Korea Utara Tolak Tuduhan FBI Soal Peretasan Binance, Kim Yo Jong Sebut Klaim AS Retorika Absurd
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Korea Utara resmi membantah keras tudingan dari Amerika Serikat yang menyebut negara tersebut sebagai dalang di balik peretasan raksasa platform mata uang kripto Binance .
  • Respons tegas ini datang setelah pihak berwenang AS mengklaim memiliki bukti keterlibatan Korea Utara dalam pencurian aset kripto bernilai triliunan rupiah.
  • Pernyataan ini menggarisbawahi ketegangan geopolitik yang kini mulai menyentuh ranah ekonomi digital, di mana keamanan siber menjadi domain baru persaingan antara negara-negara adidaya.

Korea Utara resmi membantah keras tudingan dari Amerika Serikat yang menyebut negara tersebut sebagai dalang di balik peretasan raksasa platform mata uang kripto Binance. Penolakan ini disampaikan secara tegas melalui pernyataan resmi yang disiarkan oleh kantor berita KCNA pada Rabu, menyusul tekanan diplomatik yang meningkat dari Washington terkait insiden keamanan siber berskala besar tersebut.

Respons tegas ini datang setelah pihak berwenang AS mengklaim memiliki bukti keterlibatan Korea Utara dalam pencurian aset kripto bernilai triliunan rupiah. Pernyataan ini menggarisbawahi ketegangan geopolitik yang kini mulai menyentuh ranah ekonomi digital, di mana keamanan siber menjadi domain baru persaingan antara negara-negara adidaya. Bagi Pyongyang, tuduhan tersebut dianggap sebagai upaya untuk mengisolasi mereka secara diplomatik dan ekonomi.

Respons Diplomatis Kim Yo Jong dan Tuduhan FBI

Kim Yo Jong, adik dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sekaligus direktur departemen pada Komite Sentral Partai Pekerja Korea, mendefinisikan klaim Washington sebagai "provokasi basi" yang bertujuan menghubungkan insiden global dengan Republik Rakyat Demokratik Korea. Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong mengkritik keras upaya FBI yang dianggap ingin melabeli Korea Utara sebagai "negara kejahatan siber". Ia menegaskan bahwa klaim FBI mengenai adanya organisasi peretas yang "didukung" oleh Pyongyang adalah retorika absurd yang tidak memiliki landasan bukti yang kuat.

FBI sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka menemukan keterkaitan antara Korea Utara dengan pihak-pihak yang bertanggung jawab mencuri mata uang Binance. Namun, Pyongyang menolak untuk memberikan bukti atas keterlibatan tersebut dan sebaliknya, menuduh AS menggunakan insiden ini sebagai alat provokasi politik yang sama sekali tidak memiliki dasar yang sah dalam hukum internasional atau etika diplomatik.

Dampak Peretasan dan Keamanan Aset Pengguna

Di tengah ketegangan diplomatik ini, Changpeng Zhao, pendiri Binance, telah mengonfirmasi pada pekan lalu bahwa platform mereka menjadi korban serangan peretas. Meskipun terjadi pencurian, Zhao memastikan bahwa dana milik para pengguna tetap aman dan tidak terdampak oleh insiden tersebut. Berdasarkan asesmen awal dari perusahaan, total aset yang terkena dampak akibat serangan siber ini diperkirakan mencapai 6,3 miliar dolar AS. Angka ini menjadikannya salah satu insiden peretasan kripto terbesar dalam sejarah industri, memicu kekhawatiran di kalangan investor global mengenai kerentanan infrastruktur keuangan terdesentralisasi.

Kasus ini menyoroti vulnerabilitas sistemik dalam pengelolaan aset kripto di mana yurisdiksi hukum siber masih sering tumpang tindih. Bagi pembaca dan pelaku pasar, insiden ini menjadi pengingat kritis akan pentingnya transparansi keamanan dan standar audit yang ketat dalam ekosistem blockchain, di mana negara-negara kini memanfaatkan narasi keamanan siber untuk kepentingan geopolitik mereka sendiri.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ