Inflasi Makanan Menggerus Daya Beli, El Nino Ancam Tekan Harga Pangan hingga Awal 2027
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Fenomena ekonomi Indonesia memasuki dinamika baru dengan peningkatan tajam inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,51% pada Oktober 2026. Angka ini menandai dua bulan berturut-turut terjadinya inflasi pangan yang menggerus kemampuan belanja rumah tangga, di mana harga cabai dan tomat menjadi pendorong utama. Sebaliknya, sektor perawatan pribadi mengalami deflasi sebesar 0,06% akibat penurunan harga emas perhiasan, memicu diskusi mengenai pergeseran prioritas belanja masyarakat dari kebutuhan tersier ke primer.
Pakar ekonomi memperingatkan bahwa kenaikan harga pangan yang tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan akan menyempitkan pilihan konsumsi masyarakat. Hal ini bukan sekadar pergeseran tren, melainkan tekanan nyata terhadap daya beli yang membuat porsi belanja pangan membesar meskipun volume pembelian tetap atau berkurang. M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, menegaskan bahwa indeks harga hanya mengukur perubahan nilai, bukan volume konsumsi, sehingga kesimpulan tentang pemangkasan belanja harus dibuktikan dengan data pendapatan riil.
Kronologi Inflasi Pangan dan Peran Makanan Bergizi Gratis
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai 0,51% pada Oktober 2026, atau 4,82% secara tahunan, melanjutkan tren inflasi 0,88% bulanan pada September 2026. Andil kelompok ini terhadap inflasi bulanan menjadi yang terbesar dengan kontribusi 0,15%. Sementara itu, deflasi perawatan pribadi sebesar 0,06% didominasi oleh andil 0,01% dari emas perhiasan, setelah deflasi 0,14% terjadi pada September 2026. Kestabilan harga di sektor ini tidak mengompensasi tekanan di sektor pangan yang terus membengkak.
Analisis Faisal Rachman, Kepala Riset Makroekonomi dan Market Permata Bank, menunjukkan bahwa inflasi komponen harga pangan bergejolak (volatile food) berpotensi tetap meninggi. Hal ini didorong oleh permintaan yang kuat akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Data menunjukkan inflasi pangan bergejolak berada di level 5,81% pada Agustus-September 2026, meningkat dari 6,59% pada Oktober 2025.
Risiko El Nino dan Tekanan Nilai Tukar Rupiah
Proyeksi risiko inflasi semakin kompleks akibat potensi fenomena Godzilla El Nino yang dapat mengganggu produksi pertanian hingga semester I-2027. Faisal memperkirakan, tanpa intervensi pemerintah, inflasi pangan bisa melonjak 4,38 poin persentase (ppt) dalam skenario El Nino kuat, 2,88 ppt dalam skenario moderat, dan 1,35 ppt dalam skenario lemah. Peningkatan ini berpotensi menyumbang 0,27-0,88 ppt terhadap inflasi umum, dengan dampak yang diperkirakan membuat inflasi bertahan di atas 3% hingga awal 2027.
- El Nino Kuat: Inflasi pangan naik 4,38 ppt.
- El Nino Moderat: Inflasi pangan naik 2,88 ppt.
- El Nino Lemah: Inflasi pangan naik 1,35 ppt.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah memperbesar risiko penerusan kenaikan biaya dari produsen ke konsumen (producer-to-consumer price pass-through). INDEF dan Permata Bank sepakat bahwa pemerintah perlu fokus pada stabilisasi pasokan dan keterjangkauan pangan. Keberhasilan kebijakan ke depan sangat bergantung pada kapasitas fiskal pemerintah dalam menyerap guncangan eksternal, termasuk kenaikan harga energi global yang turut memengaruhi inflasi domestik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Anjlok 3,78% ke 4.904,29, Bayang-Bayang Pemilu AS dan Pelemahan Minyak Tekan Pasar

PGN Perkuat Komitmen Pengembangan Energi Rendah Karbon dengan Infrastruktur dan Inisiatif Dekarbonisasi

IHSG Anjlok 3,52%, Analis Mirae Asset Soroti Kombinasi Rebalancing dan Sikap Risk-Off Investor
