Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

PMI Manufaktur RI Tembus 54,0, Menperin Sarmuji Angkat Agenda Penguatan Ekspor dan Daya Saing Nasional

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

PMI Manufaktur RI Tembus 54,0, Menperin Sarmuji Angkat Agenda Penguatan Ekspor dan Daya Saing Nasional
BAGIKAN:

Aktivitas industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada Oktober 2026, dengan Purchasing Managers' Index (PMI) melonjak menjadi 54,0 dari posisi 52,4 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menandai rekor tertinggi dalam 31 bulan terakhir sekaligus ekspansi terkuat sejak Maret 2024. Lonjakan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pesanan baru yang paling cepat dalam lima tahun terakhir serta pesanan ekspor tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa momentum positif ini harus dijaga agar berdampak luas pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Secara komparatif, data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia lebih tinggi dibandingkan beberapa negara Asia Pasifik, seperti Jepang (53,3), Vietnam (52,3), China (52,0), Korea Selatan (51,3), dan Malaysia (51,0). Angka di atas 50 mengindikasikan fase ekspansi aktivitas manufaktur. Namun, pemerintah menilai masih ada ruang untuk berkembang agar tidak hanya bergantung pada pasar domestik.

Strategi Penguatan Kapasitas dan Daya Saing Industri

Untuk menjaga momentum, pemerintah mendorong penguatan ekosistem manufaktur melalui upaya konkret yang meliputi:

  • Peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan perlindungan pasar dari impor tidak sehat.
  • Pastian pasokan energi dan bahan baku bagi pelaku industri.
  • Pengembangan kapasitas produksi agar semakin kompetitif di pasar ekspor.

"Industri yang sudah memiliki kemampuan produksi harus terus diperkuat, sedangkan industri yang masih membutuhkan dukungan harus kita pacu agar semakin berkembang," ujar Sarmuji. Ia menekankan bahwa pertumbuhan manufaktur tidak boleh hanya terlihat dari indikator survei, tetapi harus tercermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

Konfirmasi Penguatan di Data IKI dan Target Transformasi Ekonomi

Penguatan aktivitas manufaktur ini juga terkonfirmasi melalui Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang dirilis Kementerian Perindustrian. IKI tercatat sebesar 53,77, meningkat 1,84 poin dari September 2026 dan lebih tinggi 0,27 poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini memperkuat optimisme bahwa sektor industri nasional berada di jalur perbaikan fundamental.

Menperin menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dari sisi pasar domestik, sumber daya, dan kemampuan produksi. "Kami ingin pertumbuhan manufaktur tidak hanya terlihat dari indikator survei, tetapi juga tercermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja," tegasnya. Dengan demikian, fokus kebijakan ke depan diarahkan agar Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga semakin kompetitif di kancah global.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸