Ancaman Capital Outflow: Rupiah Berpotensi Rontok ke Rp18.350 di Akhir 2026
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Proyeksi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat seiring dominasi sentimen negatif global.
- Pengamat mata uang, Lukman Leong , memprediksi mata uang Garuda berpotensi jatuh hingga level Rp 18.350 per dolar AS menjelang akhir tahun 2026.
- Kondisi saat ini menunjukkan dolar AS bergerak variatif namun cenderung menguat.
Proyeksi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat seiring dominasi sentimen negatif global. Pengamat mata uang, Lukman Leong, memprediksi mata uang Garuda berpotensi jatuh hingga level Rp 18.350 per dolar AS menjelang akhir tahun 2026. Peramal ini didasarkan pada kombinasi tekanan eksternal berupa kebijakan suku bunga The Fed dan tingginya harga minyak dunia, serta faktor internal terkait ketidakpastian laporan MSCI yang memicu arus keluar modal asing.
Kondisi saat ini menunjukkan dolar AS bergerak variatif namun cenderung menguat. Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu, 4 November 2026, dolar AS sempat melemah 0,06% ke level Rp 18.145 saat pembukaan, namun berbalik menguat 0,02% ke level Rp 18.160 pada pukul 09.10 WIB. Pada penutupan perdagangan Selasa (3/11), dolar AS tercatat berada di level Rp 18.156. Volatilitas ini mencerminkan keraguan pasar terhadap kemampuan rupiah untuk segera pulih ke level yang lebih stabil.
Tekanan Fundamental dan Ancaman MSCI
Lukman Leong menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berpotensi bertahan hingga akhir tahun karena ketidakpastian struktural. "Tekanan terhadap rupiah masih berpotensi bertahan hingga akhir tahun, terutama karena ketidakpastian terkait MSCI, arus keluar modal asing, serta tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak," ungkapnya. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, ruang penguatan rupiah akan relatif terbatas sehingga sulit untuk kembali ke level 17.000-an. Jika kondisi tidak membaik, rupiah berisiko melemah lebih jauh hingga awal 2027 kecuali terjadi perubahan fundamental seperti pengukuhan status pasar oleh MSCI atau berakhirnya konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, memberikan proyeksi yang sedikit lebih konservatif. Ia memperkirakan rupiah akan bertahan di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 hingga akhir tahun. Menurut Tauhid, sulit bagi rupiah untuk bergerak di luar zona tersebut, baik menguat ke level 17.000-an maupun melemah menembus 18.200. "Posisinya masih antara 18.000 sampai 18.100 sampai kuartal keempat akhir tahun," tegasnya. Ia menambahkan bahwa tingginya nilai tukar dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia hingga rencana MSCI menurunkan kelas pasar modal Indonesia.
Intervensi Bank Indonesia dan Batas Tekan
Menyikapi ancaman pelemahan ini, Bank Indonesia (BI) dinilai akan melakukan berbagai langkah intervensi moneter untuk menjaga stabilitas. Tauhid Ahmad meyakini BI akan "all-out" atau mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencegah rupiah terlalu terpuruk. Salah satu instrumen yang didorong adalah pemberian insentif lindung nilai atau hedging menggunakan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Namun, ia tetap realistis bahwa untuk mengembalikan rupiah ke bawah Rp 18.000 per dolar merupakan tantangan yang sangat besar saat ini. "Tapi kalau untuk di bawah Rp 18.000 per dolar rasanya sulit lagi," jelas Tauhid, menggambarkan batas psikologis baru bagi pelaku pasar keuangan nasional.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Ditembus Support Krusial, Analis Proyeksi Koreksi Lanjut ke Level 4.763

OJK Cabut Izin Usaha BPR Agritrans Batumarta Sumsel, LPS Ambil Alih Proses Likuidasi

Raffi Ahmad Hadapi Kisruh RANS Carnival: Manajemen Klaim Tak Ada Pengarahan Warga
