Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Indonesia dan China Kencangkan Kerja Sama Pertanian: dari Benih Bawang Putih hingga Investasi Industri Pengolahan

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Indonesia dan China Kencangkan Kerja Sama Pertanian: dari Benih Bawang Putih hingga Investasi Industri Pengolahan
BAGIKAN:

Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, menegaskan bahwa kerja sama dengan China harus diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bawang putih impor, yang saat ini masih memenuhi sekitar 90 persen kebutuhan nasional. Kesepakatan strategis ini dibahas dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian China, Zhang Zhu, di Beijing pada Senin (2/11), yang menyoroti pentingnya transfer teknologi dan pembangunan klaster produksi dalam negeri.

Pemerintah tidak sekadar menginginkan kelancaran perdagangan, tetapi juga peningkatan kapasitas produksi pangan di dalam negeri. Di saat yang sama, Indonesia berupaya memperbesar ekspor komoditas unggulan ke pasar China, mengubah dinamika hubungan dagang menjadi lebih seimbang melalui pendekatan kerja sama hulu ke hilir yang komprehensif.

Dari Hulu ke Hilir: Usulan Teknologi dan Investasi

Amran mengusulkan skema kerja sama terintegrasi untuk bawang putih, mencakup penyediaan benih, transfer teknologi budidaya, serta mekanisasi pertanian. Zhang menyambut baik usulan ini dan menyatakan kesiapan China untuk memperdalam diskusi teknis, termasuk pemanfaatan drone, robot pertanian, dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu, Indonesia membuka pintu bagi perusahaan China untuk berinvestasi di kawasan industri khusus, seperti pabrik kelapa, rumput laut, dan vaksin pertanian, yang telah dilengkapi lahan dan legalitas.

Kedua negara juga membentuk working group untuk membahas potensi komoditas lain seperti kelapa, kopi, kakao, dan kelapa sawit. Menurut Zhang, nilai perdagangan ekspor-impor kedua negara pada 2025 diperkirakan mencapai US$125 miliar (Rp2.266,12 triliun), yang setara dengan 25 persen dari total perdagangan China dengan negara-negara Asia Tenggara. Angka ini mencerminkan potensi besar yang akan dimaksimalkan melalui kolaborasi ekonomi yang lebih dalam, termasuk usulan peningkatan perdagangan produk susu dan penelitian gandum.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸