Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama
BAGIKAN:

Perekonomian petani Indonesia menunjukkan sinyal positif yang kuat di akhir triwulan ketiga 2026, seiring lonjakan signifikan pada Nilai Tukar Petani (NTP). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kemampuan tukar tenaga kerja dan hasil panen petani kian tebal, didorong oleh performa gemilang subsektor hortikultura. Kenaikan NTP secara keseluruhan tercatat stabil karena indeks harga yang diterima petani melampaui laju kenaikan biaya produksi dan konsumsi, sebuah indikator penting bahwa kesejahteraan petani terjaga di tengah dinamika pasar.

Andalan Hortikultura Menekan Tekanan Inflasi Sektor

Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, membeberkan detail bahwa peningkatan NTP terjadi berkat lonjakan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,55%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang hanya merangkak 0,41%. Dalam paparannya pada Senin (2/11/2026), Ateng menegaskan bahwa komoditas karet, jagung, cabai merah, dan gabah merupakan penopang utama kenaikan ini. Khusus pada subsektor hortikultura, NTP membukukan rekor pertumbuhan tertinggi mencapai 6,88%. Lonjakan ini dipicu oleh indeks harga yang diterima petani hortikultura yang melesat 7,12%, sementara biaya yang mereka keluarkan hanya naik tipis 0,23%. Cabai merah, tomat, dan cabai rawit menjadi pahlawan tak terlihat di balik kenaikan tersebut, menunjukkan betapa vitalnya peran sayuran dan buah-buahan dalam stabilisasi nilai tukar petani.

Paradoks Sektor: Nelayan Masih Tertekan

Meski catatan positif menghiasi sektor pertanian, tidak semua subsektor mengalami euforia yang sama. NTP subsektor peternakan dan perikanan justru mencatatkan angka negatif, dengan penurunan masing-masing sebesar 0,88% dan 0,51%. Pada sektor perikanan, tekanan berat terasa pada segmen nelayan, di mana Nilai Tukar Nelayan (NTN) merosot 0,99%. Hal ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima nelayan sebesar 0,51% yang dibarengi naiknya biaya operasional mereka sebesar 0,49%. Komoditas ikan tongkol dan ikan cakalang didominasi sebagai penyebab utama turunnya nilai tukar tersebut. Sebaliknya, para pembudidaya ikan masih mampu bertahan dengan NTP positif 0,26%, menunjukkan bahwa diversifikasi usaha di sektor akuakultur menjadi bantalan ekonomi yang lebih stabil dibandingkan penangkapan ikan secara alami.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸