BEI dan DDTC Evaluasi Insentif Pajak, Dorong Emiten Naik Kelas dan Kuat

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menginisiasi kajian mendalam untuk mengevaluasi efektivitas skema insentif perpajakan yang diberlakukan bagi perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia. Langkah strategis ini dipimpin oleh Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, yang berfokus pada sejauh mana potongan pajak saat ini benar-benar memberikan dampak nyata dalam mendorong pertumbuhan dan daya saing emiten. Kolaborasi ini melibatkan firma konsultan pajak ternama, PT Dimensi International Tax (DDTC), untuk memastikan analisis yang objektif dan berbasis data terhadap empat pilar utama insentif yang berlaku saat ini.
Evaluasi Empat Pilar dan Potensi Penurunan Tarif PPh
Dalam kajian yang diselesaikan di Gedung BEI, Jakarta Selatan, tersebut, pihak bursa mengidentifikasi bahwa emiten yang memenuhi kriteria dan persyaratan tertentu saat ini berhak mendapatkan insentif berupa penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar 3 persen. Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa hasil dari penelusuran empat pilar insentif ini diharapkan tidak hanya memperkuat daya tarik pasar modal bagi calon emiten, tetapi juga menjadi modal penting untuk memperketat tata kelola perusahaan. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem di mana kepatuhan dan struktur tata kelola yang baik dapat berjalan beriringan dengan efisiensi biaya fiskal perusahaan.
Cases Success: Transformasi Emiten dari Papan Akselerasi
Sebagai bukti nyata dari pemanfaatan fasilitas tersebut, BEI mengungkap keberhasilan transformasi beberapa pelaku usaha, khususnya dari skala kecil menuju papan pencatatan yang lebih tinggi. PT Trimegah Karya Pratama Tbk disorot sebagai contoh utama; perusahaan ini tidak hanya aktif memanfaatkan insentif perpajakan, tetapi juga berhasil mengeskalasi kelas bisnisnya dari papan akselerasi ke papan pengembangan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa insentif pajak dapat berfungsi sebagai katalisator untuk pertumbuhan fundamental perusahaan, bukan sekadar penghematan biaya jangka pendek.
Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa capaian ini harus menjadi inspirasi bagi emiten lain untuk memandang pasar modal sebagai wadah tumbuh bersama, bukan sekadar sarana menghimpun dana jangka pendek. BEI berkomitmen penuh untuk mendampingi perusahaan sejak tahap awal hingga mampu menjadi entitas yang berdaya saing global. Dengan fokus pada penciptaan perusahaan publik yang memiliki fundamental kuat dan tata kelola berkelanjutan, BEI berharap dapat mengurangi ketergantungan pada kuantitas pencatatan saham baru dan lebih menitikberatkan pada kualitas emiten yang mampu bertahan serta berkembang di kancah internasional.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Robert Budi Hartono Kembali Jadi Orang Terkaya RI, Kekayaan Capai US$12,2 Miliar

Emiten TAPG Bagi Dividen Interim Rp1,39 T, Rekaman pada 12 November 2026

IHSG Raih Penguatan 0,95% di Sesi I, Asing Borong 10 Saham Ini Meski Catat Net Sell
