BPS Rilis Data: Harga Beras Naik di Semua Level Distribusi, Inflasi Tahunan Capai 6,89%
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa harga beras di Indonesia mengalami tren kenaikan secara menyeluruh pada periode Oktober 2026. Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada harga di pasar eceran yang langsung dirasakan konsumen, tetapi juga sudah terjadi sejak dari hulu, yaitu di tingkat penggilingan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan adanya tekanan biaya yang merata di sepanjang rantai pasok pangan pokok tersebut.
Lonjakan Harga dari Penggilingan hingga Eceran
Secara rinci, data BPS menunjukkan rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik sebesar 0,26% secara bulanan (month-to-month). Namun, jika dilihat secara tahunan (year-on-year), peningkatan harganya mencapai angka yang lebih signifikan, yakni 6,89%. Jika diklasifikasikan berdasarkan kualitas, beras premium mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 11,32%, sementara beras medium meningkat 5,57% dalam periode yang sama. Angka ini mengindikasikan bahwa peningkatan harga tidak bias terhadap jenis beras, melainkan merespon faktor struktural di pasar.
Di tingkat distribusi menengah, yakni grosir, inflasi beras tercatat sebesar 0,01% secara bulanan dan 5,13% secara tahunan. Saat produk sampai ke pasar eceran, dampaknya terlihat pada inflasi sebesar 0,08% per bulan. Secara kumulatif, tekanan harga di level eceran tercatat 4,10% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka ini memperlihatkan bagaimana kenaikan di hulu sedikit demi sedikit ditransfer ke hilir, meski persentasenya berfluktuasi.
Konteks Harga Rata-rata Nasional
Berdasarkan data tersebut, rata-rata harga beras di tingkat eceran tercatat sebesar Rp15.765 per kilogram pada Oktober 2026. Harga di tingkat grosir berada di kisaran Rp14.994 per kilogram, sedangkan di tingkat penggilingan tercatat Rp14.365 per kilogram. Ateng Hartono menjelaskan bahwa angka-angka ini merupakan hasil penggabungan data dari berbagai jenis kualitas beras serta mencerminkan kondisi rata-rata di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, tren kenaikan ini bersifat nasional dan menjadi indikator penting bagi kebijakan stabilitas pangan di masa mendatang, terutama mengingat cabai merah juga turut berkontribusi pada inflasi umum yang mencapai 0,22%.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Robert Budi Hartono Kembali Jadi Orang Terkaya RI, Kekayaan Capai US$12,2 Miliar

Emiten TAPG Bagi Dividen Interim Rp1,39 T, Rekaman pada 12 November 2026

IHSG Raih Penguatan 0,95% di Sesi I, Asing Borong 10 Saham Ini Meski Catat Net Sell
