11.895 Hektare Lahan Jatim Hangus, Pemprov Siagakan Helikopter Hadapi El Nino
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur (BPBD Jatim) mencatat total kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Oktober 2026 telah mencapai 11.895,35 hektare. Data tersebut merangkum 187 peristiwa kebakaran yang tersebar di 27 kabupaten/kota di provinsi tersebut. Meskipun titik-titik api dilaporkan mulai terkendali, ancaman kekeringan yang diperparah fenomena El Nino masih menjadi fokus utama penanganan bencana di wilayah Jawa Timur.
Dampak El Nino dan Status Darurat
Keadaan darurat ini dipicu oleh musim kemarau yang ekstrem, yang tidak hanya memicu kebakaran di kawasan pegunungan seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Lawu, hingga Gunung Ijen, tetapi juga menyebabkan krisis pasokan air bersih. Merespons kondisi kritis tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan karhutla melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026. Status ini berlaku selama 133 hari untuk 38 kabupaten dan kota, di mana 25 di antaranya telah menaikkan level menjadi keadaan darurat di tingkat daerah mereka masing-masing.
Respons Penanggulangan dan Dampak Sosial
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa dampak kekeringan ini sangat luas, menjangkau 926 desa di 260 kecamatan dengan total 1.582.627 jiwa atau 489.608 kepala keluarga terdampak. Penyebab kebakaran di wilayah rawan didominasi oleh kawasan bergunung dengan vegetasi kering, melibatkan faktor kelalaian manusia seperti api unggun hingga faktor alam berupa gesekan ranting. Untuk memitigasi risiko, otoritas bencana mengerahkan pemantauan hotspot satelit, satuan tugas darat, serta menyiagakan helikopter untuk operasi water bombing darurat.
Sebagai bentuk kepedulian dan solusi jangka pendek, pemerintah telah mendistribusikan bantuan logistik secara masif. Total pasokan air bersih yang telah direalisasikan mencapai 38.210.000 liter melalui 13.835 ritase distribusi. Selain air, ribuan sarana penampungan juga disalurkan agar masyarakat dapat menyimpan cadangan secara komunal, yang meliputi 1.400 tandon air, 5.000 jerigen, 500 tandon lipat, serta 17.500 lembar terpal. Langkah antisipatif ini menegaskan komitmen penuh pemprov dalam melindungi masyarakat dari dampak kemarau panjang tahun 2026.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Kapolri dan Kepala BPOM Perkuat Sinergi Awasi Kratom, Vape, hingga Program MBG

Eri Cahyadi Raih Grand BAZNAS Award 2026 atas Optimalisasi Zakat Surabaya

Pakar Hukum Peringatkan Ancaman Delegitimasi Peradilan Jika Putusan MK-MA soal Gibran Dibiarkan
