Strategi Investasi Saham bagi Pemula di Tengah Fluktuasi IHSG agar Tidak Panik
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuntut investor pemula untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pergerakan pasar yang cepat berpotensi memicu kepanikan dan mendorong tindakan berdasarkan emosi, padahal investasi saham memerlukan strategi serta pemahaman risiko yang matang.
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy menyatakan bahwa orang yang mudah panik tetap bisa berinvestasi saham asalkan dibekali pengetahuan dan strategi yang tepat. Menurutnya, kepanikan umumnya muncul akibat ketakutan dan minimnya pemahaman terhadap risiko. Ia menyarankan investor pemula menyesuaikan portofolio dengan profil risiko, masuk dengan porsi kecil, menggunakan jangka waktu panjang, dan menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA).
Sebelum membeli saham, Dandy mengingatkan pentingnya menetapkan tujuan investasi, batas kerugian yang siap ditanggung, serta skenario kapan harus membeli, menjual, atau mempertahankan aset. Dana yang digunakan haruslah uang dingin yang memang dialokasikan untuk investasi, bukan dana kebutuhan sehari-hari. Kondisi keuangan pribadi seperti arus kas yang sehat, kecukupan dana darurat, dan proteksi juga perlu dipastikan terlebih dahulu.
Dalam memilih emiten, Dandy menyarankan pemula untuk melihat fundamental perusahaan, termasuk kemampuan menghasilkan keuntungan, perkembangan bisnis, laporan keuangan yang profitabel, serta harga saham yang belum terlalu mahal. Untuk menghindari saham gorengan, ia merekomendasikan pemilihan saham yang masuk dalam indeks tersaring seperti LQ45, IDX30, Kompas100, dan Value30. Investor juga diminta mewaspadai unggahan media sosial yang memamerkan keuntungan besar karena dapat memicu fear of missing out (FOMO) dan keputusan emosional.
Senada dengan itu, Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai sifat mudah panik mengindikasikan profil risiko konservatif atau moderat yang kurang cocok untuk aktivitas trading agresif. Meski demikian, investor berkarakter tersebut tetap dapat masuk ke pasar saham melalui pendekatan jangka panjang selama tiga hingga lima tahun atau lebih, sekaligus mempertimbangkan potensi pembagian dividen tahunan.
Andy menyarankan agar dana yang ditempatkan pada investasi pertama maksimal 30 persen dari modal yang dimiliki, dan penambahan dilakukan secara bertahap. Ia menekankan pentingnya memilih saham unggulan dengan likuiditas tinggi agar mudah diperjualbelikan, seperti yang terdaftar di LQ45 atau IDX100. Andy juga memperingatkan agar pemula tidak tergiur grafik yang menunjukkan lonjakan harga dalam tempo singkat, sebab saham gorengan biasanya memiliki volume transaksi rendah meskipun harganya bisa menyentuh auto rejection atas (ARA). Riset mandiri terhadap pergerakan teknikal jangka panjang dan fundamental emiten menjadi kunci sebelum memutuskan transaksi, menurut keterangan Andy.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Pemerintah Petik Pajak Rp2,18 T dari Kripto, Fintech Tembus Rp5,4 T

Harga Minyak Turun ke US$111,84 di Tengah Harapan Damai Iran-AS

Pasokan Alumina dan Aluminium RI Diproyeksi Melimpah, Ini Pendorongnya
