WTP Serpong Lagoon Disegel, 146 Warga Tangsel Muntaber Akibat Air Positif E. Coli
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Sebanyak 146 warga Perumahan Serpong Lagoon di Tangerang Selatan dilaporkan muntaber massal setelah uji laboratorium menemukan bakteri E. coli dalam sumber air mereka. Angka ini mencakup balita dan bayi, dengan kasus termuda berusia 11 bulan yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Arnis Silvia, salah satu terdampak, menyatakan mayoritas korban adalah anak usia dini. "Kalau dari persentase lebih dari 50 persen adalah balita termasuk bayi," kata Arnis seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Tangsel, Rabu (14/10). Warga mengalami dehidrasi berat hingga sulit mendapat cairan infus.
Ketua RT 04 RW 07, Heru Cahyono, mengonfirmasi data sementara 146 terdampak pada Selasa (13/10). "(Total ada) 146. Campuran ya orang tua dan anak," kata Heru. Gejala klinis meliputi muntah, diare, dan demam.
Ketua Komisi II DPRD Tangsel, Ricky Yuanda, merekomendasikan penyegelan instalasi WTP karena melanggar aturan izin distribusi air. "Hasil Labkesda... menunjukkan air tersebut tidak layak untuk digunakan untuk konsumsi karena mengandung bakteri E. coli," ujarnya tegas. DPRD mendesak pemerintah daerah mengatur penyaluran air bersih darurat.
Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan menahan langkah penyegelan total dengan alasan kemaslahatan warga. "Kalau kita langsung melakukan penyegelan... Warga akan terkena dampak tidak mendapatkan air," katanya. Pengelola diminta melakukan perbaikan sistem dan menyediakan pasokan air bersih sementara.
Analisis Redaksi
Peristiwa ini menyoroti kerapuhan regulasi pengelolaan air privat di hunian modern. WTP beroperasi tanpa izin legalitas distribusi, menciptakan celah pengawasan yang mengancam kesehatan ratusan jiwa secara kolektif. Ketidaksesuaian antara risiko kesehatan publik dan argumen aksesibilitas air menunjukkan dilema strategis pemerintah daerah.
Penundaan penyegelan penuh berisiko memicu keraguan publik terhadap netralitas penegakan standar sanitasi. Tanpa transparansi data teknis perbaikan, wabah ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi kepercayaan pada infrastruktur air berbasis komersial di wilayah urban padat seperti Tangsel.
Langkah jangka pendek berupa penyaluran air bersih harus segera dievaluasi efisiensinya. Jika kontaminasi E. coli berkepanjangan, dampaknya tidak hanya terbatas pada kasus gastroenteritis, tetapi juga pada beban ekonomi keluarga yang memiliki bayi dan balita, sekaligus menuntut audit menyeluruh terhadap rantai pasok air di sektor properti residensial.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Di Balik Puncak F1 2026: Rutinitas Latihan Ekstrem Kimi Antonelli Jaga Kebugaran di Tengah Tekanan G-Force

Polri dan BPOM Rumuskan Regulasi Ketat untuk Atasi Penyalahgunaan Kratom

Kapolri dan Kepala BPOM Perketat Pengawasan Narkotika, Obat Keras, dan Kosmetik Ilegal
