Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Batam Dilanda Blackout dan Asap Karhutla, 327 Kasus ISPA Ditunggu

KesehatanSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Batam Dilanda Blackout dan Asap Karhutla, 327 Kasus ISPA Ditunggu
BAGIKAN:

Warga Batam, Kepulauan Riau, kembali menanggung beban ganda akibat pemadaman listrik total dan kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan pada Rabu (14/10). Kondisi ini tidak sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga mulai memicu dampak kesehatan signifikan. Warga mengaku mengalami mata perih dan sesak napas setelah menghirup udara yang kualitasnya kian memburuk di tengah ketidakpastian pasokan energi dan kualitas udara.

Jaharudin, seorang pengemudi ojek online, menggambarkan situasi Rabu siang sebagai yang terparah dalam beberapa hari terakhir. "Nafas agak sesak, pemandangan sudah kabur, pedih mata, dari jauh pandang tidak nampak lagi," ujarnya saat ditemui wartawan. Jaharudin menyebutkan bahwa ketebalan asap kali ini jauh melampaui beberapa hari sebelumnya. Akibatnya, pendapatannya ikut terpangkas. "Ini paling parah, asapnya tebal dibandingkan beberapa hari yang lalu," kata dia. Ia mencatat sepinya pesanan karena banyak warga memilih bertahan di rumah guna menghindari paparan udara kotor.

Rekan Jaharudin sesama pengemudi ojol, Aleksander, mengonfirmasi penurunan pendapatan yang drastis. "Kalau ojol pendapatannya menurun, karena rata-rata orang di rumah masak di rumah, jarang order," ucapnya. Aleksander yang sedang menunggu pesanan sambil merasakan perih di matanya mengungkapkan harapannya agar kabut asap segera hilang. "Semoga hilanglah kabut asapnya dari Batam," katanya. Pengabaian terhadap kondisi kesehatan publik terlihat jelas saat para pekerja lapangan seperti mereka harus tetap beroperasi di tengah polusi tinggi.

Menurut Suratman, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, asap tersebut berasal dari sebaran kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 3-15 kilometer per jam, sementara pergerakan asap mengarah ke barat laut hingga timur laut. "Ini dari Sumatra dan Kalimantan hingga berdampak pada Kepri," kata Suratman. Ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut mulai mengganggu jarak pandang di kawasan Bandara Hang Nadim Batam, yang masih berada di kisaran 1.400 meter.

Headline data menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 190,1 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB Rabu, dengan kategori kualitas udara sangat tidak sehat. Jarak pandang di sejumlah ruas jalan diperkirakan hanya sekitar 100 meter, bahkan di beberapa titik hanya 50 meter. "Ini sudah masuk waspada bagi bandara landasan pendek," ujar Suratman. Melda Sari, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batam, melaporkan 327 kasus ISPA tercatat pada 10 Oktober 2026 dari sejumlah puskesmas. Kelompok usia 19-59 tahun menjadi yang terbanyak dengan 145 kasus atau sekitar 44,3 persen dari total laporan harian.

Analisis Redaksi

Pola data ISPA di Batam sepanjang Oktober menunjukkan tren fluktuatif yang berbahaya, dengan lonjakan kasus yang berkorelasi kuat dengan pemburukan kualitas udara. Angka 327 kasus hanya untuk satu hari pada 10 Oktober merupakan indikasi sistemik bahwa paparan asap kiriman dari Sumatra dan Kalimantan tidak lagi sekadar gangguan cuaca, melainkan krisis kesehatan publik yang nyata. Fokus utama pada kelompok usia produktif (19-59 tahun) mengisyaratkan ancaman terhadap produktivitas ekonomi masyarakat Batam, di mana pekerja lapangan dan commuter menjadi korban terdampak langsung.

Keterlibatan pemerintah kota melalui surat edaran kewaspadaan adalah langkah awal yang wajar, namun kurang memadai tanpa intervensi teknis yang lebih agresif. Mengingat jarak pandang bandara yang turun ke level waspada dan konsentrasi PM2.5 yang berada di zona sangat tidak sehat, diperlukan koordinasi lintas kementerian untuk memastikan suplai masker N95 dan penyediaan fasilitas cuci mata di ruang publik. Wartawan di lapangan mencatat bahwa keluhan para pengemudi ojol bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga sinyal ekonomi mikro yang terganggu. Jika hujan abu dan asap tidak segera diredam dengan tindakan mitigasi di hilir maupun hulu, dampaknya akan bermutasi dari gangguan kesehatan jangka pendek menjadi masalah kumulatif penyakit pernapasan kronis di masyarakat Batam.

BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Meow! Tanya Nesi!
😸