Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Airlangga: Bea Masuk AS Mematikan Ekspor Panel Surya, Fokus Geser ke Dalam Negeri

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Airlangga: Bea Masuk AS Mematikan Ekspor Panel Surya, Fokus Geser ke Dalam Negeri
BAGIKAN:

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan mengalihkan fokus pasar panel surya ke dalam negeri menyusul tingginya bea masuk impor dari Amerika Serikat. Langkah strategis ini diambil karena besarnya tarif impor membuat produk asal Indonesia sulit menembus pasar Paman Sam.

"Berarti dengan bea masuk yang tinggi kita enggak bisa. Makanya kita mendorong produksi dalam negeri, demand dalam negeri 100 megawatt," ujar Airlangga saat ditemui usai acara BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10). Pernyataan ini menandai pergeseran prioritas dari ekspansi ekspor ke penguatan pasar domestik.

Di sela diskusi tersebut, Airlangga juga menyoroti tantangan regulasi yang masih menyisakan celah untuk mendukung ekosistem energi bersih di tanah air. "Kita lihat infrastruktur regulasinya masih banyak yang perlu disiapkan," paparnya. Ia menegaskan bahwa tanpa fondasi hukum yang solid, industri hilir akan terus kesulitan beradaptasi.

Airlangga turut mengungkit isu skema perdagangan global berbasis lingkungan, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan European Union Deforestation Regulation (EUDR) dari Uni Eropa. Menurutnya, regulasi ini akan mengubah struktur harga produk di pasar internasional berdasarkan jenis energi yang digunakan dalam proses produksinya.

"Itu dampaknya adalah untuk produk-produk itu membutuhkan green energy. Jadi ke depan kalau green energy itu akan mendapatkan premium price, sedangkan kalau yang berbasis non-green itu harganya bisa lebih rendah," tuturnya. Ia menambahkan bahwa draft perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA) saat ini telah memasuki tahap akhir perancangan hukum sebelum diajukan untuk proses ratifikasi.

"IEU-CEPA kita sedang menunggu selesainya legal drafting dalam bahasa Inggris. Jadi kalau ini selesai, harapannya di bulan Oktober itu sudah bisa untuk diajukan ratifikasi di EU," pungkas Airlangga. Isu CBAM dan EUDR disebut tidak berkaitan langsung dengan kelanjutan perundingan IEU-CEPA.

Analisis Redaksi

Pergeseran strategi ini bukan sekadar repositioning, melainkan respons defensif terhadap hambatan perdagangan yang bersifat struktural. Ketika pintu ekspor ke AS tertutup rapat oleh tarif, pasar domestik dengan kebutuhan 100 megawatt menjadi napas industri. Tanpa penyerapan lokal yang kuat, kapasitas produksi yang dibangun justru akan menganggur.

Naras tentang 'premium price' untuk energi hijau mengisyaratkan bahwa keunggulan kompetitif di pasar global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh biaya produksi, melainkan jejak karbon. Indonesia yang sedang berlari mengejar target nol emisi, dipaksa untuk tidak hanya memproduksi energi bersih, tetapi juga membuktikannya melalui standar regulasi yang semakin ketat. Ini adalah ujian sesungguhnya bagi konsistensi komitmen lingkungan di sektor hilir.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ