BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Tahan di 3,23 Persen, Cabai Merah Jadi Pemicu Utama

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa tingkat inflasi nasional pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (year on year) dan 0,22 persen secara bulanan (month to month). Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga yang moderat menjelang akhir tahun, didorong terutama oleh fluktuasi harga bahan pokok. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar dengan catatan inflasi 0,51 persen yang memberikan andil sebesar 0,15 persen terhadap total inflasi nasional.
Peran Komoditas Hortikultura dalam Lonjakan Harga
Secara rinci, komoditas cabai merah menjadi pendorong utama inflasi pada kelompok makanan dengan andil mencapai 0,13 persen. Diikuti oleh cabai rawit dengan andil 0,05 persen dan tomat dengan andil 0,04 persen. Selain ketiga komoditas tersebut, Ateng juga menyoroti peran komoditas lain di luar kelompok utama yang memberikan andil dominan, yaitu tarif angkutan udara yang berkontribusi sebesar 0,01 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki tercatat sebagai pendorong kedua terbesar ke inflasi bulanan dengan angka 0,06 persen, meskipun andilnya terhadap total inflasi nasional tercatat nol persen. Sementara itu, kelompok transportasi menunjukkan inflasi 0,13 persen dengan andil 0,02 persen.
Dinamika Inflasi Inti dan Komponen Harga
Dari perspektif komponen harga, inflasi inti tercatat pada angka 0,12 persen dengan andil 0,07 persen, mengindikasikan tren harga yang relatif stabil untuk barang dan jasa yang tidak diatur langsung oleh pemerintah. Komponen harga diatur pemerintah juga memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Namun, perhatian utama tertuju pada komponen harga bergejolak (volatile food) yang tercatat melonjak tajam sebesar 0,77 persen, memberikan andil signifikan yakni 0,13 persen terhadap inflasi bulanan. Kenajakan harga bergejolak ini dipicu oleh sejumlah komoditas sayuran dan umbi-umbian.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada komponen harga bergejolak mencakup cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam atau jipang, serta sawi putih yang dikenal juga dengan sebutan pecay atau pitsai. Data BPS ini menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam merancang kebijakan pengendalian harga, terutama di sektor pangan dan energi, guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil di sisa bulan terakhir tahun 2026. Konsistensi pemantauan harga pasar menjadi kunci untuk memastikan inflasi tidak melampaui target yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Catat 23 UKM Siap IPO di 2027 Setelah Ikuti Program Pendampingan

Rapat Koordinasi Kemenko Perekonomian Bahas Percepatan Implementasi Kredit Perempuan Prasejahtera dan Penurunan Bunga Pinjaman

BEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Pasar Diprediksi Stabil Tanpa Gejolak
