BMKG Bantah Klaim Suhu Surabaya Tembus 48°C, Tekankan Batas Maksimum 37°C
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara tegas membantah klaim bahwa suhu udara di Kota Surabaya, Jawa Timur, telah menyentuh angka 48 derajat Celsius pada Minggu (4/9). Prakirawan BMKG Juanda, Oky Sukma Hakim, menjelaskan bahwa berdasarkan pantauan resmi, suhu udara di Surabaya maksimal berada di angka 37 derajat Celsius. Klarifikasi ini menjadi penting untuk meluruskan informasi yang beredar pasca penghentian Isoplus Marathon 2026, di mana penyelenggara menyebut suhu mencapai 42, 46, bahkan 48 derajat Celsius.
Ketidaksesuaian data ini berakar pada perbedaan metode pengukuran antara observasi meteorologi dan sensasi tubuh manusia. Oky menjelaskan bahwa angka 48 derajat Celsius tersebut bukanlah hasil pengamatan suhu udara (dry bulb temperature) dari BMKG. Angka tersebut kemungkinan bersumber dari data lain atau merujuk pada suhu yang dirasakan kulit manusia (feels like temperature). Dalam konteks iklim, suhu udara dan suhu yang dirasakan tubuh memiliki definisi yang berbeda secara ilmiah, di mana yang terakhir sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar.
Menciptakan kebingungan publik terjadi karena aplikasi cuaca bawaan smartphone umumnya menampilkan 'suhu yang dirasakan' atau feels like temperature. Oky memaparkan bahwa angka ini dihitung dari variabel suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Semakin lembap udara pada suhu yang sama, semakin terasa panas oleh kulit manusia. Inilah mengapa peserta maraton dan warga merasa suhu jauh lebih tinggi dari angka 37 derajat Celsius yang dilaporkan BMKG, hingga memicu isu suhu ekstrem di atas 40 derajat Celsius.
Dampak dari fenomena cuaca panas di akhir musim kemarau Oktober 2026 ini juga mendapat perhatian dari sisi keselamatan. Race Director Surabaya Isoplus Marathon 2026, Safrita Aryana, sebelumnya menyatakan bahwa acara tersebut terpaksa dihentikan karena suhu udara Kota Surabaya menunjukkan angka yang dianggap membahayakan peserta. Oky mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap paparan langsung sinar matahari pada siang hari yang dapat berdampak pada kesehatan kulit dan hidrasi tubuh, meskipun suhu udara resmi tidak mencapai level ekstrem yang dihebohkan.
Sebagai langkah preventif, BMKG memberikan panduan konkret bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Oky menyarankan penggunaan pakaian tertutup atau tabir surya serta konsumsi air sesuai kebutuhan tubuh agar terhindar dari dehidrasi. Anjuran ini menegaskan bahwa meskipun suhu udara maksimal hanya 37 derajat Celsius, kombinasi dengan kelembaban tinggi tetap menciptakan kondisi yang tidak nyaman dan berisiko bagi kesehatan jika tidak diantisipasi dengan benar oleh publik.
Analisis Redaksi
Terjadinya disonansi antara data meteorologi resmi dan persepsi publik menyoroti tantangan literasi data di era digital. Penggunaan aplikasi cuaca yang menampilkan feels like temperature tanpa konteks ilmiah sering kali salahinterpretasi sebagai suhu udara aktual, terutama dalam kejadian publik seperti penghentian maraton. Hal ini menunjukkan bahwa protokol publik perlu lebih jelas membedakan antara risiko termal fisiologis dan data klimatologis, agar keputusan darurat seperti menghentikan acara tidak sepenuhnya bergantung pada sensasi individual yang dapat bervariasi antar individu.
Dari perspektif operasional, penghentian Isoplus Marathon 2026 adalah keputusan bijak dari penyelenggara yang mengutamakan keselamatan, meskipun data BMKG menyatakan suhu udara maksimum 37 derajat Celsius. Angka ini memang termasuk kategori panas dan berisiko bagi atlet, terutama dengan faktor kelembaban. Namun, klaim suhu 48 derajat Celsius yang beredar di media sosial atau aplikasi pihak ketiga perlu didekonstruksi secara edukatif. BMKG perlu memperkuat komunikasi publiknya dengan menjelaskan mengapa 'suhu teras' bisa jauh melampaui 'suku terukur', sehingga tidak muncul narasi krisis iklim lokal yang tidak didukung data observasi baku.
Secara prospektif, tren suhu maksimum yang diprediksi mencapai 37 derajat Celsius sepanjang Oktober 2026 mengindikasikan pola cuaca panas yang konsisten di wilayah Jawa Timur pada fase akhir kemarau. Masyarakat urban seperti Surabaya perlu mengadaptasi rutinitas harian, termasuk penjadwalan aktivitas di luar ruangan dan hidrasi, sebagai respons常态化 terhadap kondisi ini. Ketidaksesuaian data yang viral sebaiknya tidak lagi memicu kepanikan, tetapi menjadi pemicu edukasi kesehatan dan meteorologi yang lebih akurat kepada khalayak ramai.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Di Balik Puncak F1 2026: Rutinitas Latihan Ekstrem Kimi Antonelli Jaga Kebugaran di Tengah Tekanan G-Force

Polri dan BPOM Rumuskan Regulasi Ketat untuk Atasi Penyalahgunaan Kratom

Kapolri dan Kepala BPOM Perketat Pengawasan Narkotika, Obat Keras, dan Kosmetik Ilegal
