Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Jangan Berteduh di Bawah Pohon Saat Petir: Risiko Kematian yang Sering Diabaikan Masyarakat

KesehatanSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jangan Berteduh di Bawah Pohon Saat Petir: Risiko Kematian yang Sering Diabaikan Masyarakat
BAGIKAN:

Warga diimbau menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan deras disertai petir. Ahli meteorologi menekankan bahwa pohon justru menjadi konduktor listrik atmosfer yang berbahaya. Praktik lama ini sering kali mengabaikan risiko fatal yang mengintai saat cuaca ekstrem terjadi di wilayah padat penduduk.

Aliran listrik dari kilatan petir tidak hanya berhenti di puncak batang pohon. Energi elektrik meloncat melalui batang, akar, dan tanah sekitar dalam radius meluas. Efek loncatan ini dapat mematikan seseorang yang sedang bersembunyi di bawah naungan, bahkan jika kilat tidak mengenai pohon secara langsung.

Reputasi pohon sebagai tempat berlindung darurat berasal dari kebiasaan turun-temurun masyarakat pedesaan. Narasi populer tentang pohon menjadi magnet tarikan petir sering dianggap mitos, padahal fisika listrik membuktikan sebaliknya. Keamanan publik saat bencana alam memerlukan edukasi yang benar tentang perilaku petir dalam skala mikro.

Kerentanan meningkat signifikan jika area tersebut memiliki banyak pepohonan tinggi atau berada di lapangan terbuka. Petir memilih jalur resistensi terendah menuju tanah, menjadikan pohon tinggi sebagai titik masuk favorit. Orang yang berdiri di dekatnya berisiko tinggi terkena arus sisa atau side flash yang berbahaya bagi sistem saraf.

Masyarakat perlu mengubah paradigma pencarian tempat aman saat badai datang. Menghindari pohon, tiang listrik, dan benda logam adalah prioritas utama keselamatan. Edukasi dini di sekolah dan komunitas menjadi kunci untuk memutus rantai kebiasaan berisiko yang sudah mengakar selama puluhan tahun.

Analisis Redaksi

Mengabaikan saran keamanan meteorologis ini mencerminkan kesenjangan antara pengetahuan sains modern dan kepercayaan budaya lama. Fakta bahwa pohon merupakan konduktor risiko tinggi sering dilupakan saat panik di tengah badai, memicu keputusan yang berpotensi fatal. Keselamatan komunitas sangat bergantung pada kemampuan individu untuk bertindak berdasarkan logika fisika, bukan insting takhayul.

Hal yang perlu diwaspadai adalah kelalaian kolektif dalam edukasi tanggap darurat. Jika generasi penerus tetap menganggap pohon sebagai tempat berlindung aman, risiko korban jiwa akibat petir akan terus berulang setiap musim hujan. Ini bukan sekadar soal memilih lokasi berteduh, melainkan tentang mengubah perilaku keselamatan secara struktural.

Langkah selanjutnya secara logis adalah kampanye publik masif melalui media dan sekolah. Aparat penanggulangan bencana harus mengintegrasikan panduan ini ke dalam simulasi darurat rutin. Tanpa perubahan perilaku akar ini, kita hanya akan terus menghitung korban jiwa akibat kesalahan kecil yang sebenarnya bisa dicegah.

BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Meow! Tanya Nesi!
😸