⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pengemudi Ojol di Palembang Meninggal, Keluarga Duga Imbas Paparan Asap Karhutla

KesehatanBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Pengemudi Ojol di Palembang Meninggal, Keluarga Duga Imbas Paparan Asap Karhutla
BAGIKAN:

Ardiansyah (41), seorang pengemudi ojek online di Palembang, menghembuskan napas terakhirnya setelah mengalami sesak napas akut yang diduga dipicu paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kejadian ini menambah daftar dampak lingkungan yang kian nyata di Sumatera Selatan, di mana kualitas udara buruk kini mengancam nyawa warga, bukan sekadar mengganggu aktivitas harian atau jarak pandang pesawat.

Istri almarhum, Rita Yunita, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan Ardiansyah memang rentan karena riwayat asma yang sudah lama diderita. Sejak kabut asap mulai menyelimuti Kota Palembang hampir dua bulan terakhir, frekuensi batuk dan sesak napas yang dialami Ardiansyah setelah beraktivitas di luar rumah semakin sering terjadi. "Kalau dia sudah selesai kerja jadi driver dan aktivitas di luar, waktu dia pulang sering batuk, sering sesak," kata Rita, Sabtu (3/10), dikutip dari detikSumbagsel. Bagi seorang pengemudi ojol, paparan udara luar adalah bagian tak terpisahkan dari rutinitas kerja harian.

Ardiansyah menghabiskan rata-rata sembilan jam di luar rumah per hari dengan menggunakan sepeda motor, mulai dari pagi hingga sore menjelang malam. Meski keluarga telah mencoba mengurangi aktivitas di luar rumah saat kondisi kabut memburuk, nasib buruk tetap menimpa pada pagi hari sebelum meninggal. Rita menuturkan, saat Ardiansyah baru keluar dari kamar mandi, kabut asap pekat masuk langsung ke dalam ruang karena kamar mandi tersebut tidak memiliki plafon. Ardiansyah sempat mengeluhkan sulit bernapas dan mengucap, "Ya Allah, kabut asap ini," sebelum kondisinya memburuk dengan cepat.

Keluarga segera memberikan pertolongan pertama dan membawa Ardiansyah ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Bari. Meskipun tim medis melakukan pemeriksaan dan tindakan resusitasi, nyawa Ardiansyah tetap tidak tertolong. Ia meninggalkan seorang istri dan anak-anak yang kini harus berhadapan dengan kehilangan. Dampak dari peristiwa ini diperparah oleh fakta bahwa pada Sabtu pagi yang sama, kualitas udara di Palembang sangat buruk hingga menyebabkan gangguan operasional di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II).

General Manager Bandara SMB II, Ahmad Syaugi Sahab, menyatakan setidaknya delapan penerbangan terganggu akibat jarak pandang yang berada di bawah standar minimum (visibility below minimum). Empat penerbangan kedatangan, termasuk QG 980 rute Jakarta-Palembang yang harus kembali ke bandara asal (return to base), serta empat penerbangan keberangkatan seperti QG 981 dan IU 964, mengalami penundaan atau pembatalan. "Penundaan ini terjadi akibat visibility below minimal atau jarak pandang di bawah standar minimal penerbangan," ujar Ahmad. Pihak bandara dan maskapai kini terus berkoordinasi, mengutamakan keselamatan, dan mengimbau penumpang untuk memantau informasi terkini melalui berita daerah atau maskapai terkait.

Analisis Redaksi

Kematian Ardiansyah bukan sekadar data statistik, melainkan bukti bahwa risiko lingkungan akibat karhutla telah menyentuh lini paling rentan: pekerja informal yang harus berhadapan langsung dengan udara luar untuk mencari nafkah. Meskipun Ardiansyah memiliki riwayat asma, paparan asap selama hampir dua bulan merupakan faktor pencetus utama yang memperburuk kondisinya. Narasi keluarga yang meminta pemerintah "bergerak" mencerminkan eskalasi kritik publik terhadap respons penanganan karhutla yang dinilai lamban dan tidak efektif dalam melindungi kesehatan warga.

Dari sisi teknis, gangguan penerbangan menunjukkan bahwa tingkat polusi partikel halus sudah melampaui ambang batas operasional infrastruktur kritis. Jika bandara harus membatasi operasi, kesehatan manusia tentu lebih terdampak, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita penyakit pernapasan, lansia, dan anak-anak. Ini menjadi alarm keras bahwa karhutla di Sumsel bukan lagi sekadar isu kebakaran lahan, melainkan krisis kesehatan publik.

Langkah logis selanjutnya menuntut penegakan hukum yang tegas terhadap sumber kebakaran serta kesiapan protokol kesehatan darurat di daerah terdampak. Pemerintah daerah dan pusat tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mitigasi dampak kesehatan. Tanpa percepatan penanganan akar masalah dan perlindungan bagi warga, insiden serupa dengan korban jiwa berpotensi terus terjadi selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut.

BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Meow! Tanya Nesi!
😸