Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Menteri Arifah Fauzi Pastikan Penanganan Perundungan Anak di Tangsel Prioritaskan Kepentingan Anak

HukumSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menteri Arifah Fauzi Pastikan Penanganan Perundungan Anak di Tangsel Prioritaskan Kepentingan Anak
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Arifah menyatakan bahwa setiap langkah penanganan, mulai dari mediasi hingga potensi pelaporan hukum, harus berlandaskan pada trauma-informed care.
  • Ia menegaskan bahwa anak bukan sekadar objek perkara, melainkan subjek hukum yang hak-haknya harus dijamin secara penuh.
  • Pendekatan ini menuntut keterlibatan aktif orang tua dan lingkungan sekolah dalam membangun kembali kepercayaan diri anak yang tergores akibat kekerasan verbal maupun fisik.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) kini menggeser fokus penanganan dugaan perundungan terhadap anak di Tangerang Selatan dengan menjadikan prinsip kepentingan terbaik anak sebagai kompas utama. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menegaskan langsung pada Kamis bahwa pendekatan hukum maupun sosial harus mengedepankan perlindungan psikologis korban, bukan sekadar formalitas investigasi. Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik yang tajam terhadap kasus bullying yang melibatkan anak di wilayah Tangerang Selatan, sebuah daerah yang sering kali masuk dalam daftar kasus kenakalan remaja dengan angka signifikan secara nasional.

Arifah menyatakan bahwa setiap langkah penanganan, mulai dari mediasi hingga potensi pelaporan hukum, harus berlandaskan pada trauma-informed care. Ia menegaskan bahwa anak bukan sekadar objek perkara, melainkan subjek hukum yang hak-haknya harus dijamin secara penuh. Pendekatan ini menuntut keterlibatan aktif orang tua dan lingkungan sekolah dalam membangun kembali kepercayaan diri anak yang tergores akibat kekerasan verbal maupun fisik.

Latar belakang ketegasan Menteri Arifah berakar dari maraknya kasus perundungan yang terstruktur dan berulang di sekolah-sekolah menengah. Data menunjukkan bahwa tanpa intervensi negara yang jelas, korban seringkali mengalami gangguan kecemasan dan depresi yang berkepanjangan. Oleh karena itu, instruksi pusat ini dimaksudkan untuk memotong mata rantai kekerasan yang sering kali diredam oleh pihak sekolah demi menjaga citra institusi.

Langkah strategis berikutnya adalah penguatan mekanisme perlindungan di tingkat daerah. Pemerintah Kota Tangsel didesak untuk menginternalisasi protokol pencegahan perundungan yang lebih ketat, melibatkan psikolog anak dalam setiap penanganan kasus. Tanpa dukungan infrastruktur mental health yang memadai di sekolah, upaya hukum semata akan terasa dangkal dan tidak menyentuh akar masalah trauma psikologis korban.

Dampak dari kebijakan ini dirasakan langsung oleh orang tua di wilayah Tangerang Selatan yang kini memiliki payung hukum dan kebijakan lebih jelas untuk menuntut keadilan. Kehadiran negara melalui KPPPA memberikan efek jera kepada pelaku sekaligus memberikan sinyal bahwa perundungan bukan lagi 'hal biasa' di lingkungan pendidikan, melainkan pelanggaran serius yang akan ditindak secara proporsional namun tetap memanusiakan korban.

Analisis Redaksi

Ketegasan Menteri Arifah Fauzi ini merupakan sinyal pergeseran paradigma dari sekadar penegakan disiplin sekolah menjadi penegakan hak asasi manusia anak di lingkungan pendidikan. Jika hanya mengandalkan sanksi internal sekolah, potensi ketidakadilan tinggi karena ada konflik kepentingan antara pihak manajemen sekolah dan orang tua korban. Intervensi pusat yang menekankan 'kepentingan terbaik anak' adalah upaya untuk meminimalisir bias institusional tersebut.

Perlu diwaspadai adalah implementasi di lapangan yang sering kali terjebak pada birokrasi. Tanpa pemantauan berkala dari Dinas Sosial dan KemenPPPA, kebijakan ini bisa menjadi dokumen mati yang tidak menyentuh perubahan budaya di ruang kelas. Kemungkinan langkah selanjutnya adalah pembentukan gugus tugas khusus antar-departemen yang melibatkan polisi dan psikolog forensik, guna memastikan bahwa penanganan tidak hanya berbasis hukum pidana, tetapi juga rehabilitasi psikososial yang komprehensif bagi korban.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ