Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Polisi: CCTV Tegaskan Sutrimo Meninggal karena Jantung Iskemik, Bukan Pidana

Berita NasionalBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Polisi: CCTV Tegaskan Sutrimo Meninggal karena Jantung Iskemik, Bukan Pidana
BAGIKAN:

Polda Metro Jaya membeberkan fakta baru mengenai kematian Sutrimo, mantan pekerja rumah eks Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Berdasarkan puluhan rekaman CCTV dan hasil ekshumasi, penyidik memastikan kematian Sutrimo disebabkan oleh penyakit jantung iskemik dan edema paru akut. Wadirreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dewa Anom Danunjaya menegaskan, hingga kini belum ditemukan unsur tindak pidana dalam peristiwa yang menggemparkan publik tersebut.

Rincian kronologi disampaikan AKBP Dewa Anom Danunjaya dalam konferensi pers. Rekaman CCTV menunjukkan pada Rabu (22/7), Sutrimo melintas di Klinik SAS sekitar pukul 21.20 WIB hingga 21.40 WIB menggunakan motor Mio yang didorong bersama satu orang. Keesokan harinya, Kamis (23/7), sutrimo terlihat melintas di Jalan Petogogan 2 mengendarai motor Jupiter merah. Pada dini hari, tepatnya pukul 01.46 hingga 03.11 WIB, dia dibonceng keluar dari Jalan Radio Dalam 1. CCTV merekam mereka berhenti makan di warung Pecel Lele Sambal Setan sebelum Sutrimo kembali ke Klinik Mordent.

Momen kritis terungkap dari kamera saat sebuah ambulans keluar dari klinik menuju Rumah Sakit Muhammadiyah setelah Sutrimo terdeteksi kembali mengendarai motor dan berhenti di depan TKP. Anom menjelaskan, pada Kamis pagi, operator call center PKAD menerima laporan ada pasien tidak sadarkan diri di Kramat Pela, Jakarta Selatan. Namun, ketika petugas tiba, kondisi Sutrimo sudah meninggal dunia sehingga tidak bisa dibawa ke RS oleh unit PKAD.

Sebuah ambulans dari PT Bintang Medica Indonesia kemudian dipanggil oleh seseorang yang mengaku sebagai kerabat korban. Sekitar pukul 08.53 WIB, driver ambulans menemukan Sutrimo tergeletak di bawah tangga halaman klinik. Tubuhnya tertutup kain seprai biru bermotif bunga dengan kepala dialasi handuk merah. Saat dibuka, terlihat busa keluar dari mulut dan hidung. Driver kemudian mengelap busa tersebut menggunakan handuk. Sesuai permintaan kerabat, tubuh Sutrimo dibawa ke RS Muhammadiyah Taman Puring, lalu diterbangkan ke kampung halamannya di Banyumas, Jawa Tengah, dan dimakamkan di TPU Bantar Agung, Desa Ulahar, pada pukul 23.30 WIB hari itu.

Dokter forensik Ahmad Yudianto, ketua tim ekshumasi, menjelaskan bahwa busa putih yang keluar dari mulut korban merupakan gejala edema paru akut akibat cairan menumpuk di paru-paru. Kondisi ini menghambat saluran napas dan memicu reaksi refleks seperti dikocok yang menghasilkan busa. Hasil pemeriksaan forensik dan ekshumasi ini menjadi dasar hukum bagi Polda Metro Jaya untuk menutup kasus ini karena tidak ada indikasi kekerasan atau penganiayaan yang membunuh Sutrimo secara kriminal.

Analisis Redaksi

Pemaparan detail kronologi melalui CCTV ini berfungsi untuk menutup ruang spekulasi liar yang beredar di media sosial, terutama narasi yang mencoba mengaitkan kematian Sutrimo dengan skandal suap KPK. Dengan menegaskan penyebab medis murni dan absennya unsur pidana, aparat keamanan mencoba mengakhiri kontroversi publik yang berkepanjangan. Transisi dari Klinik Mordent hingga pemakaman di Banyumas yang dilakukan secara diam-diam menunjukkan adanya upaya keluarga atau kerabat untuk menjaga privasi korban yang masih hangat dibicarakan publik saat itu.

Keputusan untuk memakamkan jenazah dengan cepat ke Jawa Tengah juga menjadi sinyal penting. Ini mengindikasikan bahwa pihak keluarga ingin mengakhiri proses investigasi di wilayah metropolitan dan mengembalikan situasi ke kondisi normal bagi lingkungan sekitar. Bagi publik, kasus ini menjadi pengingat bahwa verifikasi fakta lapangan, seperti rekaman video dan visum, adalah kunci utama dalam membedakan antara kematian tragis dan potensi kriminal, khususnya ketika korban terkait dengan figur publik penegak hukum seperti mantan ajudan Febrie Adriansyah.

BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Meow! Tanya Nesi!
😸